Bikin Tenang! 3 Jurus Jitu Atasi Grogi Saat Presentasi di Kelas
Pernahkah kamu merasa jantung berdebar kencang saat harus maju presentasi di depan kelas? Tangan berkeringat dingin, suara bergetar, bahkan materi yang sudah dipersiapkan matang mendadak hilang dari ingatan? Jangan khawatir, perasaan gugup ini ternyata dialami oleh hampir semua siswa, lho!
Mengapa Grogi Itu Wajar?
Menurut Putu Tiwi, seorang public speaker sekaligus penulis buku "Be Heard", grogi itu justru pertanda baik. "Kalau kalian dihadapkan dengan satu kondisi baru kalian tidak merasa grogi justru kalian tidak normal. Berarti kalian tidak excited menghadapi itu," jelas Tiwi saat peluncuran bukunya di panggung utama Indonesia International Book Fair (IIBF) 2025, Jakarta International Convention Center Senayan, Jakarta, Kamis (25/9/2025).
Ia menambahkan, alih-alih berusaha menghilangkan perasaan gugup, yang terpenting adalah bagaimana cara mengantisipasinya agar tidak mengganggu penampilan saat presentasi. Tiwi meyakinkan bahwa bahkan pembicara berpengalaman pun masih bisa merasakan grogi saat menghadapi momen-momen baru.
3 Jurus Jitu Atasi Grogi Saat Presentasi ala Putu Tiwi
Dalam acara talk show peluncuran bukunya, Tiwi membagikan tiga tips praktis untuk mengatasi rasa gugup saat presentasi.
1. Latihan Rutin: Kunci Percaya Diri
Persiapan adalah kunci utama! Tiwi menyarankan untuk menyiapkan materi presentasi dengan matang dan berlatih menyampaikannya berulang-ulang. Semakin sering berlatih, semakin percaya diri kita dalam menyampaikan materi.
"Dengan teman-teman latihan otomatis teman-teman jadi percaya diri," ungkapnya.
2. Hindari Pikiran Negatif: Sugesti Buruk Berdampak Nyata
Terlalu banyak membayangkan hal-hal buruk justru bisa menjadi bumerang. Pikiran negatif dapat memicu tubuh untuk merespons sesuai dengan bayangan tersebut. Oleh karena itu, Tiwi sangat menekankan pentingnya menghindari pikiran negatif sebelum tampil.
"Kalau kita berpikir negatif otomatis itu adalah perintah untuk meminta tubuh kita melakukan hal-hal yang menyebabkan hal negatifnya benar-benar terjadi. Percayalah," tegas dosen tersebut.
3. Tanamkan Pikiran Positif: Visualisasikan Kesuksesan!
Alih-alih fokus pada ketakutan akan hal yang belum tentu terjadi, Tiwi mendorong siswa untuk membayangkan audiens memberikan apresiasi atas presentasi mereka. Bayangan positif ini akan memotivasi otak untuk mencari cara agar hal tersebut menjadi kenyataan.
"Kemudian hal ketiga yang harus kita perhatikan adalah ingat-ingat untuk berpikir positif," ujarnya. "Teman-teman, kita pikirkan, bayangkan orang-orang akan akan bangga, orang-orang akan kagum, otomatis teman-teman akan punya motivasi untuk mencapai hal itu," sambungnya.
Public Speaking Bisa Dilatih, Lho!
Melalui buku "Be Heard", Putu Tiwi ingin menyadarkan banyak orang bahwa public speaking bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatih. Buku ini membahas berbagai aspek penting, mulai dari membangun mindset, menghadapi rasa grogi, hingga strategi berbicara dengan bahasa tubuh dan intonasi yang tepat.
"Aku ingin anak muda sadar bahwa semua orang bisa belajar public speaking, bukan hanya mereka yang percaya diri sejak lahir," ujar Tiwi.
Buku "Be Heard" tersedia di Booth Erlangga selama pameran IIBF 2025 di Assembly Hall, JICC Senayan.
Dengan hadirnya buku ini, Tiwi berharap semakin banyak generasi muda Indonesia yang berani berbicara di depan umum, menyuarakan ide, dan menginspirasi banyak orang. "Kalau kita bisa berbicara dengan baik, kita bisa membuka lebih banyak kesempatan dalam hidup," pungkasnya.