Penasaran Gimana Atlas Indonesia Terbaru Ini Dibuat? Yuk, Intip!

Table of Contents
Penasaran Gimana Atlas Indonesia Terbaru Ini Dibuat? Yuk, Intip!


Pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana atlas Indonesia yang sering kita lihat di sekolah atau rumah dibuat? Ternyata, prosesnya panjang dan melibatkan perpaduan antara sains, seni, dan ketelitian tinggi.

Mengintip Proses Pembuatan Atlas Indonesia

Membuat atlas bukanlah sekadar menyusun peta. Randhi Atiqi, Surveyor Pemetaan Ahli Muda Badan Informasi Geospasial (BIG) sekaligus penulis atlas Indonesia, memaparkan bahwa prosesnya memakan waktu hingga satu tahun dan melibatkan tiga tahapan utama yang saling berkaitan: pengumpulan data, pengolahan data, dan penyajian visual. Hal ini diungkapkan saat Peluncuran Buku Atlas Indonesia dan Dunia oleh Penerbit Erlangga di Jakarta International Convention Center (JICC), (25/9/2025).

Pengumpulan Data: Fondasi Utama Atlas

Tahap pertama adalah pengumpulan data dari berbagai sumber. Data ini menjadi fondasi dari semua informasi yang akan disajikan dalam atlas. Sumbernya beragam, mulai dari radar untuk memetakan permukaan daratan, sonar untuk kedalaman laut, hingga citra satelit dan drone untuk detail seperti jalan, rel kereta api, bandara, dan pelabuhan.

"Pertama adalah proses pengumpulan datanya, jadi kita mengumpulkan dulu data-data yang kita ingin membuat peta itu. Kemudian proses pembuatan," jelas Randhi di JICC, Senayan, Jakarta Pusat.

Data relief bumi, baik daratan maupun lautan, menjadi informasi inti. Setelah terkumpul, data dipilah, diolah, dan masuk ke tahap desain visual.

Pengolahan dan Desain Visual: Membuat Data Mudah Dicerna

Setelah data terkumpul, tahap selanjutnya adalah pengolahan dan desain visual. Data mentah diolah dan disaring menggunakan Geographic Information System (GIS) untuk menghasilkan informasi yang relevan dan akurat.

Kemudian, data didesain secara visual agar mudah dipahami. Pemilihan warna, simbol, dan tata letak menjadi krusial. Warna digunakan untuk membedakan ketinggian, jenis vegetasi, atau kepadatan penduduk. Simbol mewakili fitur geografis seperti kota, gunung, atau sungai. Tata letak dirancang agar informasi tersaji jelas dan mudah dibaca.

Tantangan dalam Seleksi Data: Memilih yang Esensial

Tantangan terbesar dalam pembuatan atlas adalah menyeleksi data. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dan puluhan ribu desa. Tidak mungkin semua informasi itu ditampilkan dalam satu atlas.

"Banyak tantangannya yang saya sebutkan. Saya merasa tertantang untuk memilih yang mana nih sebaiknya yang kita ambil. Karena ada perasaan kalau dibuang sayang gitu," kata Randhi.

Proses seleksi data membutuhkan pertimbangan matang. Data yang dipilih harus relevan, akurat, dan representatif. Kriteria pemilihan data dapat bervariasi tergantung pada tujuan atlas.

"Kadangkala ada suatu kondisi tertentu, data yang dibutuhkan, data yang dari satelit itu tidak sebaik data yang dikumpulkan dari penggunaan pesawat ataupun drone," tambahnya.

Apa Bedanya Atlas dengan Peta Biasa?

Meskipun sering dianggap sama, atlas dan peta biasa berbeda. Peta biasa menampilkan gambaran satu wilayah pada satu lembar. Atlas adalah kumpulan peta yang disusun menjadi buku, biasanya dengan alur cerita atau tema tertentu. Atlas juga dilengkapi informasi tambahan seperti teks penjelasan, grafik, dan indeks.

Keunggulan Atlas di Era Digital

Di era digital, peta digital semakin populer. Namun, atlas tetap memiliki keunggulan. Menurut Denny Wamardi, guru sekaligus Ketua MGMP Geografi Provinsi DKI Jakarta, peta fisik dalam atlas memberikan kejelasan visual dan minim distraksi, sehingga lebih efektif dalam pembelajaran.

"Atlas bisa menggabungkan data spasial, sejarah, hingga kebudayaan dalam satu buku. Ini sangat membantu siswa memahami geografi dan mengenal Indonesia lebih dekat," katanya.

Atlas juga tidak membutuhkan koneksi internet atau perangkat elektronik. Bisa digunakan kapan saja dan di mana saja.

Harapan dari Atlas Indonesia Terbaru

Pembuatan atlas Indonesia terbaru diharapkan dapat meningkatkan literasi geospasial. Atlas tidak hanya berfungsi sebagai bahan bacaan, tetapi juga sebagai sarana untuk memahami luasnya wilayah Indonesia, kekayaan sumber daya alam, potensi bencana, hingga peluang pembangunan.

Randhi berharap atlas ini tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga sarana meningkatkan literasi geospasial.

"Atlas membantu kita memahami luasnya wilayah Indonesia, kekayaan sumber daya, potensi bencana, hingga peluang pembangunan. Literasi ini penting, bukan hanya untuk pelajar, tapi juga masyarakat luas," ujarnya.

Dengan proses yang panjang dan teliti, atlas hadir bukan sekadar kumpulan peta, tetapi juga media pembelajaran yang kaya informasi. Randhi berharap, setiap keluarga dan sekolah memiliki atlas agar anak-anak Indonesia tumbuh dengan pemahaman geospasial yang kuat dan rasa cinta tanah air yang mendalam.

Melalui Atlas Indonesia dan Dunia yang dibuatnya bersama Penerbit Erlangga, Randhi berkomitmen dalam mendukung pendidikan geografi serta literasi spasial di Indonesia. Atlas ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber belajar di kelas, tetapi juga sebagai referensi penting bagi masyarakat luas untuk memahami peta, fenomena alam, serta keanekaragaman budaya Indonesia dalam konteks global.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.