Ketika Suara Bising Medsos Lebih Nyaring dari Kata Para Ahli

Table of Contents
Ketika Suara Bising Medsos Lebih Nyaring dari Kata Para Ahli


Di era serba digital ini, kita dibanjiri informasi dari berbagai arah, terutama media sosial. Namun, pernahkah kita bertanya, suara siapa yang sebenarnya paling lantang terdengar? Ironisnya, seringkali bukan para ahli dengan data dan kompetensi yang berbicara, melainkan riuhnya opini yang belum tentu berlandaskan fakta. Bagaimana kita bisa memilah informasi yang benar di tengah kebisingan ini?

Buzzer Lebih Didengar, Suara Ilmuwan Tenggelam?

Fenomena opini tanpa fakta yang merajalela ini menjadi perhatian serius. Pakar analisis media sosial, Ismail Fahmi, mengingatkan bahwa media sosial kini menjadi arena pertarungan narasi. Celakanya, arena ini seringkali dikuasai oleh buzzer dan akun bot. Di tengah hiruk pikuk ini, suara akademisi yang seharusnya menjadi sumber informasi terpercaya justru nyaris tak terdengar.

Hal ini diungkapkan Ismail Fahmi dalam konferensi internasional "The 2025 International Conference on Computer, Control, Informatics, and Its Application (IC3INA)" pada 15 Oktober 2025. Dalam presentasinya yang berjudul "Siapa Pemilik Narasi? Data, Disinformasi, dan Hilangnya Suara Akademisi", ia menjelaskan bahwa suara akademisi yang berbasis data ilmiah seringkali kalah nyaring dibandingkan opini yang viral di media sosial. Penelitian yang seharusnya menjadi dasar diskusi publik, justru terpinggirkan di jurnal-jurnal ilmiah.

Perbandingan Aktivitas Digital Kampus: AS vs. Indonesia

Untuk melihat lebih dalam, sebuah analisis komparatif dilakukan untuk membandingkan aktivitas digital universitas-universitas ternama di Amerika Serikat dan Indonesia.

Kampus AS Sangat Aktif di Dunia Maya

Analisis Jaringan Sosial (Social Network Analysis) membandingkan aktivitas digital universitas-universitas top AS seperti Stanford University, Harvard University, dan Massachusetts Institute of Technology (MIT) dengan tiga universitas terkemuka di Indonesia: Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Hasilnya? Universitas-universitas di AS sangat aktif di dunia digital, baik dari sisi institusi maupun akademisinya. Diskusi yang dibangun bersifat global, membahas isu-isu krusial seperti pandemi COVID-19, politik internasional, hingga penemuan ilmiah terbaru.

"Para akademisi di AS, terutama saat pandemi, tampil sebagai 'influencer' pengetahuan yang aktif berdebat, mengedukasi, dan meluruskan informasi yang salah di media sosial," jelas Ismail Fahmi. Mereka memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan informasi akurat dan berbasis bukti kepada masyarakat luas.

Universitas Indonesia: Minim Keterlibatan dan Dekat Isu Politik

Sebaliknya, analisis yang sama menunjukkan universitas-universitas di Indonesia memiliki keterlibatan yang lebih sedikit di media sosial. Aktivitas yang ada cenderung bersifat institusional dan fokus pada isu-isu lokal. Bahkan, jejaring diskusi seputar UI justru lebih dekat dengan isu-isu politik dibandingkan isu akademis atau ilmiah.

"Universitas kita seolah tidak punya narasi sendiri di media sosial. Kita seringkali hanya terseret oleh buzzer dan isu politik ke dalam narasi mereka," jelas Ismail Fahmi, dikutip dari BRIN pada 20 Oktober 2025. Ini menunjukkan bahwa ruang publik digital di Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal oleh kalangan akademisi untuk menyebarkan pengetahuan dan meluruskan informasi.

Mengapa Akademisi Indonesia Kurang Bersuara?

Ada beberapa alasan mengapa para akademisi di Indonesia kurang aktif bersuara di media sosial. Salah satunya adalah ketakutan akan kekerasan politik, tekanan institusional, serta risiko hukum dan reputasi.

"Ada kekhawatiran bahwa opini yang disampaikan di media sosial dapat disalahartikan atau dipolitisasi, sehingga membahayakan keselamatan diri atau karier akademisi," ungkap Ismail Fahmi. Selain itu, kebijakan internal universitas juga bisa menjadi penghalang.

Strategi Komunikasi: Fokus Data dan Jurnalisme Konstruktif

Mengingat berbagai kendala tersebut, Ismail Fahmi menawarkan strategi komunikasi yang aman dan konstruktif agar para akademisi dapat lebih aktif berkontribusi dalam membentuk opini publik yang berbasis data dan kebenaran ilmiah. Strateginya? Fokus pada data, bukan politik; mengadopsi prinsip-prinsip jurnalisme konstruktif; serta memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menyaring informasi dan mengidentifikasi isu penting yang perlu direspon.

"Jika kita sebagai akademisi dan peneliti hanya menjadi penonton, lalu siapa yang akan menjadi pemandu intelektual publik yang berbasis data? Data harus hadir di ruang publik, tidak hanya di jurnal dan kelas," tegasnya.

Ismail Fahmi berharap forum akademik dapat menjadi kekuatan intelektual publik dengan memastikan hasil penelitian memiliki dua tujuan: meningkatkan literasi sains dan memberikan informasi real-time yang akurat kepada masyarakat. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat lebih cerdas dalam memilah informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh opini tanpa fakta. Kolaborasi antara akademisi, jurnalis, dan pemangku kepentingan lainnya adalah kunci untuk menciptakan ekosistem informasi yang lebih sehat dan terpercaya.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.