Pernah Merasa Lebih Baik Gak Tahu Apa-Apa? Mungkin Kamu Kena Efek Burung Unta!

Table of Contents
Pernah Merasa Lebih Baik Gak Tahu Apa-Apa? Mungkin Kamu Kena Efek Burung Unta!


Pernah merasa lebih damai saat tidak tahu apa-apa? Mungkin Anda sedang mengalami "efek burung unta", kecenderungan menghindari informasi, terutama yang kurang menyenangkan. Fenomena psikologis ini lebih dari sekadar lari dari masalah. Mari kita kupas tuntas fenomena ini, mengapa kita melakukannya, dan bagaimana cara menghadapinya.

Apa Sebenarnya Efek Burung Unta Itu?

Dalam dunia psikologi, efek burung unta adalah perilaku menghindar dari informasi negatif. Sama seperti mitos burung unta yang menyembunyikan kepala di pasir saat terancam, kita cenderung mengabaikan informasi yang bikin stres, cemas, atau tidak nyaman. Ini bukan cuma soal masalah pribadi, tapi juga keuangan, politik, bahkan kesehatan.

Kapan Manusia Mulai Jadi "Burung Unta"?

Sebuah studi terbaru dari The University of Chicago (UChicago) mengungkap fakta menarik: kecenderungan menghindari informasi ini ternyata meningkat seiring usia. Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Psychological Science pada Juni 2025 menunjukkan, anak-anak usia 5 dan 6 tahun justru aktif mencari informasi, bahkan yang berpotensi negatif. Tapi, begitu menginjak usia 7 hingga 10 tahun, mereka mulai menghindar, terutama jika informasi itu bisa memicu emosi negatif.

"Untuk memahami bagaimana perilaku pengambilan keputusan berubah seiring waktu, kita perlu meneliti anak-anak," kata Radhika Santhanagopalan, peneliti pascadoktoral UChicago. Menurutnya, anak-anak adalah kunci untuk menelusuri asal-usul perilaku ini.

"Ketidaktahuan Adalah Kebahagiaan": Mengapa Kita Menghindar?

Meski terkesan kontraproduktif, kecenderungan menghindari informasi punya akar psikologis yang kuat. Dalam banyak kasus, ketidaktahuan dianggap sebagai jalan pintas menuju kebahagiaan, atau setidaknya, peredam kecemasan sesaat.

Lima Alasan Utama di Balik Penghindaran Informasi

Santhanagopalan dan timnya mengidentifikasi lima alasan utama mengapa manusia sengaja memilih untuk tidak tahu:

1. Menghindari emosi negatif: Informasi negatif memicu kecemasan, kekecewaan, atau stres. Menghindarinya jadi cara instan melindungi diri. 2. Menghindari informasi negatif tentang diri sendiri: Kita enggan menerima kritik atau informasi yang meragukan kemampuan. 3. Menghindari tantangan terhadap keyakinan: Informasi yang bertentangan dengan keyakinan bisa memicu disonansi kognitif, perasaan tidak nyaman akibat konflik antara keyakinan dan realitas. 4. Melindungi preferensi pribadi: Kita cenderung menghindari informasi yang bisa mengubah preferensi, terutama jika perubahan itu menimbulkan konsekuensi negatif. 5. Bertindak demi kepentingan diri sendiri tanpa terlihat egois: Ketidaktahuan bisa jadi alasan untuk membenarkan tindakan yang menguntungkan diri sendiri, sambil menghindari penilaian negatif orang lain.

Contohnya, anak-anak dalam eksperimen lebih tertarik belajar mengapa permen yang tidak mereka sukai buruk bagi gigi, daripada permen favorit mereka. "Mereka tidak ingin tahu mengapa permen favorit mereka buruk," jelas Santhanagopalan. Temuan ini konsisten dengan semua motivasi di atas, kecuali yang berkaitan dengan kompetensi. Anak-anak dari segala usia tidak takut belajar meski mendapat nilai buruk dalam ujian, karena adanya pola pikir berkembang yang ditanamkan di sekolah, di mana bakat dianggap bisa berubah dan berkembang.

Ruang Gerak Moral: Ketidaktahuan Sebagai Senjata?

Penelitian ini juga menyoroti bagaimana ketidaktahuan bisa dieksploitasi sebagai "ruang gerak moral". Ini adalah kecenderungan memanfaatkan ambiguitas demi keuntungan pribadi, sambil tetap mempertahankan citra diri yang positif.

"Kita ingin bertindak demi kepentingan pribadi, tapi kita juga peduli untuk tampil adil di mata orang lain. Ruang gerak moral memungkinkan kita mencapai kedua tujuan tersebut," terang Santhanagopalan. Dalam eksperimen, anak-anak cenderung memilih untuk tidak mengetahui berapa banyak stiker yang akan didapatkan pasangannya, sehingga mereka bisa membuat pilihan tanpa merasa bersalah.

"Tabir ketidaktahuan memungkinkan mereka bertindak demi kepentingan pribadi mereka sendiri," ungkap Santhanagopalan, menegaskan bahwa ketidaktahuan bisa jadi alat untuk membenarkan tindakan egois.

Lalu, Bagaimana Cara Mengatasi Kebiasaan Menghindar Ini?

Menghindari informasi berlebihan bisa berdampak negatif, seperti memperdalam polarisasi politik atau kekakuan ideologis. Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Santhanagopalan menyarankan untuk merenungkan alasan mengapa kita menghindari informasi. Cobalah membingkai ulang informasi yang tidak nyaman sebagai sesuatu yang berguna dan berharga.

"Membingkai ulang informasi yang membuat kita tidak nyaman sebagai sesuatu yang berguna dan berharga mungkin dapat membantu," ujarnya. Intervensi sejak usia dini juga penting untuk mencegah anak-anak terjebak dalam perangkap penghindaran informasi.

Pada dasarnya, kita punya keinginan untuk menyelesaikan ketidakpastian, tapi ketidakpastian juga bisa menakutkan. "Ketika penyelesaiannya terasa mengancam, orang mungkin akan memilih untuk menghindari hal tersebut," kata Santhanagopalan. "Saya pikir ada manfaatnya jika kita mampu menoleransi dan bahkan menerima ketidakpastian dalam tingkat tertentu," tambahnya.

Jika semua cara gagal, Santhanagopalan menyarankan untuk meniru perilaku anak-anak: "Ikuti rasa ingin tahu Anda."

Dengan memahami akar psikologis dari efek burung unta dan menerapkan strategi yang tepat, kita bisa mengurangi kecenderungan menghindari informasi dan menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi realitas, baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Informasi yang awalnya terasa mengancam, pada akhirnya bisa jadi kunci untuk pertumbuhan dan kemajuan diri.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.