Sampah Jadi Listrik? Kata Ahli, Jangan Sampai Jadi Andalan!
Gunung sampah di perkotaan seringkali menjadi masalah pelik, mengancam kesehatan dan mencemari lingkungan. Di tengah tantangan ini, muncul harapan baru: mengubah sampah menjadi energi listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) digadang-gadang sebagai solusi berkelanjutan. Namun, para ahli mengingatkan, inovasi ini bukan satu-satunya jawaban. Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan agar PLTSa benar-benar efektif dan membawa manfaat jangka panjang?
Ambisi Indonesia: Bangun 33 PLTSa pada 2025
Pemerintah Indonesia berupaya keras mempercepat pembangunan PLTSa di berbagai daerah. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) bahkan menargetkan pembangunan 33 stasiun PLTSa di seluruh Indonesia pada akhir Oktober 2025. Setiap stasiun diharapkan mampu mengolah 1.000 ton sampah per hari. Investasi yang digelontorkan untuk setiap stasiun diperkirakan mencapai Rp 2 triliun hingga Rp 3 triliun. Proyek ambisius ini diharapkan menjadi solusi ganda, mengatasi masalah sampah sekaligus berkontribusi pada target Net Zero Emissions (NZE) Indonesia pada tahun 2060.
Rosan Roeslani, CEO Danantara Indonesia, mengungkapkan bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 35 juta ton sampah setiap tahunnya. "Jumlah ini sangat besar dan butuh penanganan serius. Pembangunan PLTSa merupakan salah satu upaya untuk mengelola sampah secara efektif sekaligus menghasilkan energi bersih," ujarnya. Beberapa kota besar, termasuk Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali, menjadi prioritas utama dalam pembangunan PLTSa.
PLTSa: Bukan Peluru Perak?
Menanggapi rencana besar ini, Prof. Wiratni, ST MT PhD, pakar teknik bioproses dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menekankan pentingnya pendekatan yang komprehensif dalam pengelolaan sampah. Ia mengingatkan agar PLTSa tidak dipandang sebagai satu-satunya solusi ajaib. "Akar masalah sampah ada pada perilaku kita sebagai penghasil sampah. PLTSa hanyalah bagian dari solusi yang lebih besar," tegasnya.
Menurut Wiratni, keberhasilan proyek PLTSa sangat bergantung pada dua faktor utama: kesiapan teknis dan perubahan perilaku masyarakat. "Teknologi secanggih apa pun tidak akan cukup jika masyarakat tidak peduli dengan pemilahan sampah dan pengurangan sampah dari sumbernya," imbuhnya.
Kunci Sukses PLTSa: Pemilahan Sampah yang Efektif
Salah satu kunci utama keberhasilan PLTSa adalah pemilahan sampah yang efektif. Wiratni menjelaskan bahwa sampah yang masuk ke PLTSa idealnya didominasi oleh sampah kering. "Jika sampah masih tercampur antara organik dan anorganik, proses pengolahan akan menjadi tidak efisien dan berpotensi merusak peralatan. Investasi pun bisa menjadi sia-sia," jelasnya.
Walaupun PLTSa dapat dilengkapi dengan alat pengering, proses ini akan meningkatkan biaya operasional dan berpotensi menimbulkan bau yang tidak sedap. "Pemilahan sampah dari sumbernya adalah langkah krusial untuk menjaga efisiensi dan keberlanjutan PLTSa," kata Wiratni.
Belajar dari TPST Piyungan: Ancaman Sampah Organik
Pengalaman Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan di Yogyakarta bisa menjadi pelajaran berharga. TPST Piyungan, yang menampung sampah dari Sleman, Bantul, dan Yogyakarta, mengalami kelebihan kapasitas (overload) pada tahun 2012 dan akhirnya ditutup pada tahun 2024.
Aris Prasena, SSi MSc, Kepala Balai Pengelolaan Sampah DIY, mengungkapkan bahwa sekitar 50 persen sampah yang masuk ke TPST Piyungan adalah sampah organik. "Dominasi sampah organik mempercepat proses dekomposisi, menyebabkan tanah cepat ambles, dan memperpendek umur teknis TPA," ungkapnya. Aris juga menjelaskan bahwa desain awal TPA hanya diperuntukkan bagi residu akhir setelah sampah dipilah dan diolah di tingkat rumah tangga. Namun, dalam praktiknya, seluruh sampah langsung dibuang ke TPA tanpa pemilahan.
Rekomendasi: Kelola Sampah Organik di Rumah atau Komunitas
Berkaca pada kasus TPST Piyungan, Wiratni merekomendasikan agar sampah organik diolah di tingkat rumah tangga atau komunal yang dekat dengan sumber sampah. "Pengelolaan sampah organik skala kecil dan realistis, seperti komposting dan budidaya maggot, lebih efektif dan berkelanjutan," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengangkutan sampah organik dalam skala besar dari sumber sampah ke titik pengolahan tidak efisien karena berpotensi menimbulkan bau dan menyebarkan penyakit selama proses pengangkutan. "Permasalahan sampah organik bukan soal bisa atau tidak menjadi energi, melainkan pada proses pengangkutan dari sumber ke lokasi pengolahan," tegas Wiratni.
Insentif, Disinsentif, dan Tipping Fee: Mendorong Peran Serta Masyarakat
Untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah, Wiratni merekomendasikan penerapan mekanisme insentif dan disinsentif. "Masyarakat yang aktif memilah sampah dapat diberikan insentif, sementara yang tidak memilah sampah dikenakan disinsentif," jelasnya.
Selain itu, perlu ada biaya pembuangan sampah ke fasilitas pengelolaan sampah (tipping fee) yang realistis. "Tipping fee akan mendorong masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan," kata Wiratni.
Pemetaan Sumber Sampah dan Industri Daur Ulang
Pemerintah juga perlu memetakan sumber-sumber sampah dan ekosistem industri penyerap hasil olahan sampah (off-taker) yang sudah ada. "Pemetaan ini penting untuk mengetahui jenis sampah yang dihasilkan dan potensi daur ulangnya," jelas Wiratni.
Contohnya, dengan memetakan bank sampah dan pelaku usaha daur ulang, pemerintah dapat mengintegrasikan mereka ke dalam sistem pengelolaan sampah yang lebih komprehensif. "Dengan pemetaan yang baik, kapasitas PLTSa bisa difokuskan hanya pada sampah residu yang benar-benar tidak dapat diolah," imbuhnya.
PLTSa: Jangan Hanya Jualan Listrik!
Terakhir, Wiratni mengingatkan agar perhitungan keekonomian PLTSa tidak hanya mengandalkan penjualan listrik ke PLN. "Harus ada mekanisme tipping fee sebagai disinsentif. Jangan sampai PLTSa justru membutuhkan lebih banyak sampah, karena arah kita seharusnya menuju zero waste dengan ekosistem ekonomi sirkuler," pungkasnya.
Dengan pendekatan yang holistik dan melibatkan seluruh elemen masyarakat, PLTSa berpotensi menjadi solusi efektif dan berkelanjutan dalam mengatasi masalah sampah di Indonesia. Namun, perlu diingat bahwa PLTSa bukanlah jawaban tunggal. Perubahan perilaku masyarakat, pemilahan sampah dari sumbernya, dan pengembangan industri daur ulang juga memegang peranan penting dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat.