MATERI SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) CASN CPNS TES WAWASAN KEBANGSAAN - NASIONALISME

SKD - TWK : NASIONALISME

MATERI SKD (Seleksi Kompetensi Bidang) CASN CPNS TES WAWASAN KEBANGSAAN - NASIONALISME

A. Pengertian Nasionalisme


Secara bahasa, nasionalisme adalah kata serapan yang diambil dari bahasa Inggris yaitu nation. Kata nation jika diartikan ke bahasa Indonesia artinya adalah bangsa.Jika merujuk pada arti dari asal katanya, nasionalisme adalah sesuatu yang berkaitan dengan bangsa. Bangsa sendiri adalah sebuah rumpun masyarakat yang tinggal di sebuah teritorial yang sama dan memiliki karakteristik yang hampir sama.
Menurut KBBI (Kamus Bahasa Besar Indonesia), nasionalisme adalah sebuah paham yang mengajarkan untuk mencintai bangsanya sendiri. Dalam hal ini jelas jika nasionalisme sangat erat kaitannya dengan mencintai negara baik budayanya, masyarakatnya maupun tatanan yang ada di negara tersebut. Jika merujuk pada KBBI, maka orang yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi adalah orang yang mencintai negaranya.

Pengertian nasionalisme dari segi bahasa berbeda dengan chauvinisme. Kedua kata ini sama-sama diartikan mencintai bangsa dan negara.Namun pada paham chauvinisme kecintaan pada negara sangat fanatik sehingga membenarkan merusak atau menghancurkan negara lain demi kejayaan bangsa sendiri.
Tentu saja paham cauvinisme ini tidak sejalan dengan nilai nasionalisme, paham chauvinisme bisa merusak perdamaian dunia.


B. Bentuk-Bentuk Nasionalisme.

Nasionalisme Kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil).
Merupakan bentuk nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari penyertaan aktif rakyatnya, kehendak rakyat, atau perwakilan politik. Nasionalisme Etnis. Adalah sejenis semangat kebangsaan dimana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat.

Nasionalisme Romantik/Organik/Identitas.
Dimana negara memperoleh kebenaran politik secara semula jadi (organik) hasil dari bangsa atau ras; menurut semangat romantisme. Nasionalisme Budaya. Bentuk nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan bukannya “sifat keturunan” seperti warna kulit, ras dan sebagainya.

Nasionalisme Kenegaraan.
Variasi nasionalisme kewarganegaraan, selalu digabungkan dengan nasionalismeetnis. Perasaan nasionalistik adalah kuat sehingga diberi keutamaan mengatasi hak universal dan kebebasan. Nasionalisme Agama. Bentuk nasionalisme dimana negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama.


C Nasionalisme Berdasarkan Nilai Pancasila


Di dalam Pancasila nilai-nilai akan nasionalisme juga sudah tertanam khususnya pada sila ketiga yaitu persatuan Indonesia. Dikarenakan dasar negara Indonesia adalah Pancasila, maka penting bagi kita mengetahui pengertian nasionalisme sesuai dengan Pancasila. Bangsa Indonesia sudah paham betapa pentingnya rasa nasionalisme bahkan sebelum merdeka. Rasa nasionalisme ini telah tertuang dalam peristiwa sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Kala itu, Indonesia mengaku jika berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu. Hal ini menandakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kuat dan menjunjung tinggi nilai nasionalisme.

Setelah Indonesia merdeka, nilai nasionalisme dituangkan pada pancasila dan pembukaan UUD 1945. Namun pada pembukaan UUD 1945 juga ditekankan jika Indonesia yang mencintai negaranya dan juga ikut menjaga ketertiban dunia. Hal ini jelas menjauhkan bangsa Indonesia dari paham chauvisme. Pemimpin dunia yang menganut paham chauvisme adalah Hitler. Hitler menganggap mencintai negara berarti bersedia melakukan apapun untuk negara bahkan bila perlu dengan menghancurkan negara lain.
Jadi, jika merujuk pada paham pancasila dan pembukaan UUD 1945, nasionalisme adalah sikap cinta tanah air dan menjaga persatuan bangsa dengan tetap menjaga perdamaian yang ada di dunia.

Dengan demikian bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi rasa kebangsaan tanpa harus menghancurkan dan mengganggu kedaulatan bangsa lain. Jika semua negara menerapkan nasionalisme dengan benar, perdamaian dunia mudah di wujudkan. Dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air, warga negara yang baik adalah warga negara yang memiliki sikap nasionalIsme yang tinggi. Nasionalisme yang tinggi ini bisa dipupuk dari kegiatan-kegiatan yang kecil.

D Contoh Sikap Nasionalisme Awal Kemerdekaan


1 Pertempuran Lima Hari di Semarang
Pertempuran 5 Hari atau Pertempuran 5 Hari di Semarang adalah serangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia di Semarang melawan Tentara Jepang. Pertempuran ini adalah perlawanan terhebat rakyat Indonesia terhadap Jepang pada masa transisi (bedakan dengan Peristiwa 10 November – perlawanan terhebat rakyat Indonesia dalam melawan sekutu dan Belanda). Pertempuran ini dimulai pada tanggal 15 Oktober 1945 (walau kenyataannya suasana sudah mulai memanas sebelumnya) dan berakhir tanggal 20 Oktober 1945.

2 Pertempuran Surabaya
Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 diKota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

3 Pertempuran Medan Area
Pada tanggal 24 Agustus 1945, antara pemerintah Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda tercapai suatu persetujuan yang terkenal dengan nama civil Affairs Agreement. Dalam persetujuan ini disebutkan bahwa panglima tentara pendudukan Inggris di Indonesia akan memegang kekuasaan atas nama pemerintah Belanda. Dalam melaksanakan hal-hal yang berkenaan dengan pemerintah sipil, pelaksanaannya diselenggarakan oleh NICA dibawah tanggungjawab komando Inggris. Kekuasaan itu kelak di kemudian hari akan dikembalikan kepada Belanda. Inggris dan Belanda membangun rencana untuk memasuki berbagai kota strategis di Indonesia yang baru saja merdeka. Salah satu kota yang akan didatangi Inggris dengan “menyelundupkan” NICA Belanda adalah Medan.

4 Bandung Lautan Api
Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia pada 24 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.

5 Pertempuran Laut Aru
Pertempuran Laut Aru adalah suatu pertempuran yang terjadi di Laut Aru, Maluku, pada tanggal 15 Januari 1962 antara Indonesia dan Belanda. Insiden ini terjadi sewaktu dua kapal jenis destroyer, pesawat jenis Neptune dan Frely milik Belanda menyerang RI Matjan Tutul (650), RI Matjan Kumbang (653) dan RI Harimau (654) milik Indonesia yang sedang berpatroli pada posisi 04,49° LS dan 135,02° BT. Komodor Yos Sudarso gugur pada pertempuran ini setelah menyerukan pesan terakhirnya yang terkenal, “Kobarkan semangat pertempuran”.

E Implementasi Rasa Nasionalisme Saat Ini


Kecintaan masyarakat akan tanah airnya mampu memberi pengaruh yang besar terhadap perkembangan
sebuah bangsa. Kita bisa melihat yang gerakan-gerakan sudah konstruktif muncul di awal abad ke 20, pra-kemerdekaan Republik ini salah satu faktor terbesar yang mendorong adanya gerakan itu adalah Nasionalisme. Kita bisa melihat dari mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat yang awalnya belum terpikir bahwa kemerdekaan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan, digerakkan atau dipelopori oleh sebagian orang yang sudah memiliki nasionalisme, maka rakyat Indonesia terbuka matanya untuk keluar dari lingkaran kebingungan dari pembodohan yang dilakukan Belanda ratusan tahun lamanya. Nasionalisme tidak bisa kita artikan hanya sebatas rasa cinta kepada bangsa dan negara, tapi nasionalisme adalah kesadaran individu masyarakat suatu bangsa akan tanggung jawabnya dalam kemakmuran dan pertahanan yang dilandasi rasa cinta kepada tanah airnya. Senada dengan perkataan Bung Karno, bahwa nasionalisme ialah suatu iktikad, keinsyafan rakyat, bahwa rakyat adalah satu golongan, satu bangsa. Rasa nasionalistis itu menimbulkan rasa percaya kepada diri sendiri. Rasa percaya akan diri sendiri inilah yang menimbulkan ketetapan hati dalam perjuangan menuju Indonesia merdeka. Artinya, nasionalisme itu dimulai dari adanya kesadaran, dari kesadaran itu tumbuhlah yang namanya cinta. Kesadaran akan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat diiringi cinta yang tumbuh kepada bangsa inilah yang membawa masyarakat kepada perjuangan yang tidak setengah-setengah. Jadi, keliru lah jika Nasionalisme itu diartikan hanya sebatas mencintai bangsa dan negara tanpa ada tindakan nyata.

Jika kita lihat realita yang ada hari ini, justru pengertian yang keliru itulah kebanyakan dipakai oleh masyarakat Indonesia, terlebih para 'pemuda zaman now'. Tidak sedikit yang menyatakan cintanya kepada Indonesia, tidak sedikit yang berkoar-koar menyuarakan dukungannya datang langsung ke studion ketika Indonesia bertanding sepak bola dengan Negara lain walaupun harus mengeluarkan uang, tapi yang disayangkan tidak sedikit pula yang cintanya itu hanya sebatas kata-kata. Nasionalisme tidak bisa hanya sampai di mulut, nasionalisme harus diiringi dengan aksi, dengan kontribusi nyata walaupun sederhana. Sesuatu yang kita lakukan, walaupun terlihat sederhana tapi bisa memberi pengaruh besar jika kita tau hakikat dari perbuatan itu, kita tau alasan kita berbuat, kita tau tujuan dan akibat kita bertindak.

Adapun contoh-contoh sikap yang didasari nasionalisme adalah sebagai berikut :
1. Aktif dalam Pembangunan Nasional
Turut aktif dalam pembangunan bangsa merupakan salah bentuk sikap yang menunjukkan patriotisme dan nasionalisme. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengisi pembangunan seperti halnya:
Seorang siswa belajar dengan baik dengan harapan kelak apa yang ia pelajari bisa bermanfaat untuk bangsanya;
Masyarakat yang sadar akan fungsi pemilu sehingga mengunakan hak pilihnya dan mengikuti kegiatan pemilu dengan tertib agar didapatkan pemimpin yang kompeten;
Mahasiswa yang kritis dan tanggap memberi masukan kepada pemerintah terkait masalah yang sedang terjadi didalam negeri termasuk penyalahgunaan wewenang

2. Menjunjung Tinggi Hukum
Sebagai warga negara yang baik, sudah sepatutnya kita memahami dan mematuhi hukum yang berlaku di Indonesia dengan cara sebisa mungkin tidak melanggar hukum, menyerahkan diri jika melanggarnya, dan melapor jika ada orang lain yang melanggar. Tindakan seperti ini sudah menunjukkan sikap patrotime dan nasionalisme kita. Hal-hal yang dapat kita lakukan misalnya adalah :
Mematuhi rambu-rambu lalu lintas;
Membayar pajak tepat pada waktunya;
Melakukan pekerjaan yang tidak melanggar hukum;
Menegur orang lain yang hendak mencuri.

3 Menjaga Kebersihan Lingkungan Sekitar
Dengan menjaga kebersihan lingkungan berarti anda juga mencintai lingkungan tempat tinggal anda sehingga sikap ini juga termasuk dalam sikap patriotisme dan nasionalisme. Hal-hal yang dapat kita lakukan misalnya:
Ketua RT mengadakan kegiatan kerja bakti di lingkungannya dan kita sebagai warganya mengikuti kegiatan kerja bakti tersebut dengan baik;
Pemerintah sudah menyiapkan tempat sampah di berbagai titik di lingkungan desa maka kita harus membuang sampah pada tempatnya.

4. Menciptakan Kerukunan Umat Beragama
Penduduk Indonesia terdiri dari berbagai pemeluk agama. Bangga menjadi salah satu penduduk Indonesia dan rela berkorban untuk mereka merupakan salah satu perwujudan sikap patriotisme dan nasionalisme. Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah menciptakan kerukunan antar umat beragama. Untuk mewujudkan hal tersebut kita dapat melakukan langkah-langkah konkret seperti:

Memberikan izin kepada teman untuk tidak mengikuti belajar kelompok ketika ada kegiatan keagamaan;
Tidak menggangu orang lain yang sedang melakukan ibadah seperti berteriak di dekatnya;
Berteman dengan semua orang tanpa membedakan agama.
Ikut serta kegiatan gotong royong di lingkungan misalnya dalam membangun pos kampling,
Saling tolong menolong ketika ada tetangga atau teman yang terkena musibah,
Menghargai pendapat orang lain di dalam musyawarah dan tidak memotong pembicaraannya.


5 Menggunakan Produk dalam Negeri
Untuk menunjukkan sikap patriotisme dan nasionalime sudah semestinya kita bangga dan sebisa mungkin menggunakan produk dalam negeri. Banyak orang yang senang menggunakan produk luar negeri. Biasanya mereka berpendapat bahwa produk luar negeri pasti lebih bagus. Padahal, sudah banyak juga produk dalam negeri yang patut diberi apresiasi dari segi kualitasnya. Beberapa produsen Indonesia bahkan mengaku mereka banyak menjual produknya ke luar negeri tanpa merk, kemudian perusahaan luar negeri memberikan label, dan menjualnya. Hal ini membuktikan bahwa produk Indonesia juga diakui oleh dunia internasional.

6 Melestarikan Budaya
Salah satu dampak globalisasi adalah banyaknya budaya asing yang masuk ke Indonesia. Hal ini dapat mengancam punahnya budaya Indonesia sendiri. Untuk mengatasi hal tersebut maka generasi penerus bangsa harus turut melestarikan budaya Indonesia sebagai wujud sikap patriotisme dan nasionalismenya. Salah satu bentuk perwujudan sikap patriotisme dan nasionalime yang dapat kita lakukan adalah menjunjung ideologi bangsa. Ideologi bangsa Indonesia adalah Ideologi Pancasila. Dengan mewujudkan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi terbuka di dalam kehidupan kita berarti kita bangga dan cinta kepadanya.

7. Menjunjung Cita-cita Bangsa
Penting bagi sebuah negara agar rakyatnya mendukung dan menjunjung cita-cita bangsa. Cita-cita bangsa Indonesia terletak pada Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 Alinea IV. Cita-cita bangsa yang tertuang dalam alinea ini adalah :
Memajukan kesejahteraan umum;
Mencerdaskan kehidupan bangsa;
Melaksanakan ketertiban dunia.
Dengan menjunjung tinggi dan rela berkorban demi terwujudnya cita-cita ini maka kita telah menunjukkan sikap patriotisme dan nasionalisme yang kita miliki.

F. Identitas Nasional

Identitas manfestasi nasional merupakan budaya nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam suatu bangsa dan menjadi ciri khas bangsa tersebut sehingga dapat menjadi pembeda dengan bangsa lain. Istilah ’identitas’ secara harfiah bisa kita pahami sebagai ciri, tanda atau jati diri. Kata ’nasional’ mengandung arti bangsa (nation), yang dalam konteks modern bisa diartikan sebagai negara. Jadi lingkup identitas nasional adalah negara dalam konteks modern.
Unsur-unsur Identitas Nasional Suku bangsa, yaitu golongan sosial yang khusus dan bersifat askriptif. Artinya, individu memilikinya sejak lahir dan bukan kuasanya untuk memilih. Misalnya, kamu sebagai
orang Minang, saya orang Asmat. Minang dan Asmat adalah identias masing-masing kita. Lebih dari 300 identitas suku bangsa yang tersebar di seantero nusantara. Agama, yaitu golongan sosial yang klasifikasinya berdasarkan agama atau aliran kepercayaan. Individu sejak lahir biasanya sudah berafiliasi ke salah satu agama. Pertama-tama atas arahan orang tua yang punya ’hak prerogatif’ menentukan apa agama anaknya. Seiring kedewasaan dan kematangan intelektual, individu mencari sendiri, menemukan atau memantapkan kembali agama yang diimaninya.

Bahasa, yaitu golongan sosial yang didasarkan pada aspek simbolik yang secara arbiter dibentuk sebagai sarana interaksi. Individu mempelajari simbol-simbol yang membentuk bahasa sejak lahir. Kemajuemukan bahasa sangat berhubungan dengan kemajemukan budaya karena bahasa merupakan bagian dari budaya. Budaya, yaitu golongan sosial yang didasarkan pada pengetahuan manusia yang secara kolektif digunakan untuk menafsir lingkungannya sehingga menjadi pedoman untuk bertindak dan menghasilkan karya. Cakupan budaya sangat luas, kita bisa memahami sistem pengetahuan yang berada dalam pikiran manusia sebagai budaya, dan teknologi yang dihasilkannya juga sebagai budaya. Keempat unsur identias tersebut melandasi lahirnya faktor-faktor pembentuk identitas nasional. Perlu diketahui bahwa identitas nasional tidak muncul dengan sendirinya, melainkan dibentuk. Pembentukannya tidak terjadi natural namun produk kesepakatan. Beberapa faktor pembentuk identitas nasional yang bisa disebutkan di sini antara lain:

Faktor Pembentuk Identitas Nasional
Primordialisme, yaitu sikap kecintaan pada identitas berdasarkan golongan, kesamaan etnis atau suku. Biasanya didasarkan pula oleh sistem kekerabatan dan kekeluargaan yang identik dengan adanya hubungan darah antar anggotanya.
Praktik keagamaan, yaitu ritual yang didasarkan pada keyakinan individu dan dipraktikkan secara kolektif. Unsur keimanan berkontribusi penting pada motivasi untuk berpartisipasi pada ritual yang dijalani secara kolektif berdasar sistem keyakinan yang sama. Pemimpin bangsa, yaitu figur atau tokoh kharismatik yang menjadi kebanggaan rakyatnya. Seorang pemimpin bangsa pada prinsipnya adalah pelayan masyarakatnya. Rakyat merasa diayomi dan bangga pada pemimpinnya yang dianggap bagian dari dirinya. Sejarah bangsa, yaitu narasi masa lalu suatu bangsa yang membentuk memori kolektif masyarakat yang hidup di zaman kekinian. Kesamaan asal-usul atau nenek moyang juga bagian dari sejarah yang dapat membentuk solidaritas dan identitas kolektif.


Ciri-ciri Negara yang Punya Identitas Nasional
Adanya pola perilaku masyarakat menyangkut adat istiadat yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Adanya lambang-lambang yang secara simbolik mendeskripsikan visi, tujuan dan fungsi didirikannya negara. Adanya alat kelengkapan yang dimiliki negara untuk melayani kebutuhan masyarakatnya, seperti tempat ibadah, infrastruktur, teknologi komunikasi, dan sebagainya.Adanya tujuan bersama yang ingin dicapai suatu bangsa yang tercermin dalam dasar negara dan konstitusinya.
Bung Karno, merupakan tokoh, figur, sang proklamator, tokoh sentral berdirinya negara Indonesia. Batik, produk budaya berupa corak lilin pada sehelai kain yang mengandung filosofi, bernilai seni dan ekonomi.
Borobudur, salah satu tempat ibadah umat Budha, candi Budha terbesar di dunia.
Rendang, salah satu makanan khas Minang yang telah mendunia.
Pancasila, ideologi resmi negara yang terdiri dari lima sila: Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi, Keadilan.