Rahasia Hiu Paus Papua Terkuak Setelah 13 Tahun Diteliti!

Raksasa laut yang lembut, si hiu paus, ternyata punya banyak cerita tersembunyi di perairan Papua. Setelah 13 tahun peneliti bekerja keras, sedikit demi sedikit misteri populasi mereka di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) mulai terkuak. Harapannya, temuan ini bisa jadi amunisi baru untuk upaya konservasi yang lebih jitu.
13 Tahun Meneliti, Populasi Hiu Paus Papua Akhirnya Terungkap
Tim ilmuwan dari berbagai lembaga, baik dari Indonesia maupun mancanegara, bahu-membahu selama lebih dari satu dekade untuk mengulik dinamika populasi, kebiasaan menetap, dan ancaman yang menghantui hiu paus (Rhincodon typus) di perairan Papua. Riset ini fokus di empat wilayah utama BLKB: Teluk Cenderawasih, Kaimana, Raja Ampat, dan Fakfak. Kabar baiknya, penelitian ini menjadi yang pertama mengupas tuntas kehidupan spesies yang sayangnya terancam punah ini di wilayah tersebut.
Bagaimana Cara Ilmuwan Mengenali Hiu Paus?
Rahasia di balik kesuksesan penelitian ini ada pada metode identifikasi fotografis (Foto ID). Bayangkan sidik jari manusia, tapi dalam bentuk totol dan garis unik di tubuh hiu paus. Foto-foto yang diambil selama penelitian dianalisis untuk membedakan setiap individu. "Metode ini sangat membantu kami melacak keberadaan hiu paus dari waktu ke waktu dan memahami pergerakan mereka," jelas Edy Setyawan dari Elasmobranch Institute Indonesia, yang memimpin penelitian ini.
Jumlah Hiu Paus yang Teridentifikasi Bikin Tercengang
Hasilnya sungguh menggembirakan sekaligus mencemaskan. Dari 1.118 pengamatan sejak September 2010 hingga Oktober 2023, tim peneliti berhasil mengidentifikasi 268 individu hiu paus. Hampir semua hiu paus ini ditemukan di sekitar bagan apung, yaitu struktur penangkap ikan tradisional yang banyak dijumpai di perairan Papua. "Sebanyak 159 individu terpantau di Teluk Cenderawasih dan 95 individu lainnya di Kaimana," ungkap rilis dari Konservasi Indonesia (KI). Data ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara hiu paus dan aktivitas perikanan, terutama bagan.
Teluk Cenderawasih dan Kaimana: Rumah Nyaman Hiu Paus?
Salah satu temuan penting lainnya adalah tingkat residensi atau lama tinggal hiu paus di Teluk Cenderawasih yang tergolong tinggi jika dibandingkan dengan lokasi lain di dunia. Rata-rata, hiu paus betah menghabiskan 77 hari di Teluk Cenderawasih, sedangkan di Kaimana "hanya" 38 hari. Lebih dari separuh individu yang teridentifikasi bahkan terlihat lebih dari satu kali. Hebatnya lagi, ada dua individu yang terpantau mondar-mandir di wilayah ini selama lebih dari 10 tahun! "Ini menandakan bahwa Teluk Cenderawasih dan Kaimana adalah habitat penting bagi populasi hiu paus muda. Mereka mencari makan dan tumbuh di sini sebelum menjelajah perairan yang lebih luas," papar Edy Setyawan.
Sayangnya, Banyak Hiu Paus yang Terluka
Namun, penelitian ini juga mengungkap ancaman serius yang mengintai hiu paus di BLKB. Hasil riset menunjukkan bahwa 76,9% hiu paus di wilayah ini punya luka di tubuhnya. Mulai dari goresan kecil, sayatan dalam, sirip yang hilang, sampai bekas gigitan predator. Meski hanya sebagian kecil luka yang disebabkan oleh baling-baling kapal (sekitar 2,4%), ironisnya proporsi luka yang terkait dengan interaksi manusia melalui perikanan dan pariwisata sangat tinggi, terutama di Kaimana (83,7%).
Apa yang Harus Dilakukan untuk Selamatkan Hiu Paus Papua?
Melihat ancaman yang ada di depan mata, para peneliti menyusun beberapa rekomendasi konservasi untuk melindungi populasi hiu paus di Papua. Rekomendasi ini mencakup pengelolaan wisata berbasis bagan yang lebih hati-hati, desain bagan yang ramah hiu paus, penerapan kode etik wisata yang ketat, serta pengawasan aktivitas perikanan dan pelayaran yang lebih ketat.
Pariwisata yang Bertanggung Jawab adalah Kunci
Mochamad Iqbal Herwata Putra dari Yayasan Konservasi Cakrawala Indonesia, yang juga terlibat dalam penelitian ini, menekankan pentingnya pengelolaan wisata hiu paus yang bertanggung jawab. "Pariwisata hiu paus bisa jadi mesin penggerak ekonomi lokal, tapi harus diatur dengan jelas agar tidak melukai hiu paus atau merusak ekosistem," ujarnya.
Bagan Ramah Hiu Paus dan Aturan yang Jelas
Rekomendasi konkretnya termasuk memodifikasi desain bagan untuk menghilangkan bagian-bagian tajam yang bisa melukai hiu paus. Selain itu, perlu ada kode etik wisata yang ketat untuk memastikan interaksi yang aman dan berkelanjutan antara wisatawan dan hiu paus. "Dengan tingkat residensi yang tinggi di Teluk Cenderawasih dan Triton, hiu paus adalah aset yang sangat berharga. Kami mendorong adanya aturan modifikasi bagan, misalnya menghilangkan bagian tajam untuk mengurangi risiko luka saat hiu paus berinteraksi di sekitar bagan," imbuh Iqbal.
Pantau Terus dan Lanjutkan Penelitian
Para ilmuwan juga menekankan perlunya memperluas pemantauan dan identifikasi individu hiu paus melalui integrasi database foto ID lintas lembaga. Melibatkan wisatawan, nelayan, dan masyarakat lokal dalam pengumpulan data juga dianggap penting untuk meningkatkan kesadaran konservasi. Penggunaan teknologi seperti pelacakan jarak jauh (telemetry) menggunakan satelit dan perekaman data biologis (biologging) juga diusulkan untuk memahami lebih dalam pola migrasi, struktur populasi, dan penggunaan habitat hiu paus.
Penelitian yang berjudul 'Insights into the population demographics and residency patterns of photo-identified whale sharks Rhincodon typus in the Bird's Head Seascape, Indonesia' ini telah dipublikasikan di Jurnal Frontiers Marine Science, Volume 12 - 2025 pada tanggal 28 Agustus 2025. Diharapkan, temuan ini bisa menjadi landasan bagi upaya konservasi hiu paus yang lebih terarah dan efektif di perairan Papua, sehingga spesies ikonik ini bisa terus lestari untuk generasi mendatang.