Kisah Inspiratif, Perjuangan Raih Doktor dengan IPK Sempurna di UB

Table of Contents
Kisah Inspiratif, Perjuangan Raih Doktor dengan IPK Sempurna di UB


Muhammad Hermawan Widyananda, alumni program studi Biologi Universitas Brawijaya (UB), menuai pujian atas prestasinya meraih gelar doktor dengan IPK sempurna 4,00. Lebih membanggakan lagi, berkat beasiswa Program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) batch 6, Hermawan berhasil menyelesaikan pendidikan magister dan doktoral hanya dalam empat tahun. Catatan gemilang lainnya, ia telah menghasilkan 53 publikasi ilmiah di jurnal internasional, sebuah pencapaian yang luar biasa bagi peneliti muda.

Kisah Inspiratif Hermawan: Raih Doktor dengan IPK Sempurna di UB

Hermawan, sapaan akrabnya, mengaku lega dan bahagia usai menyelesaikan studi doktoralnya. "Untuk S3 di Biologi, ada 10 ujian sidang, dan semuanya harus bernilai A agar bisa meraih IPK sempurna," ungkapnya, menggambarkan standar tinggi yang harus ia penuhi.

Dukungan Kampus Jadi Kunci Keberhasilan

Keberhasilan Hermawan tak lepas dari dukungan berbagai pihak, terutama dari Universitas Brawijaya.

Peran Rektor UB dalam Memotivasi Peneliti Muda

Hermawan mengungkapkan bahwa Rektor UB, Prof. Widodo, berperan penting dalam mendorongnya melanjutkan studi pascasarjana. "Beliau menilai saya punya potensi sebagai peneliti. Selain memberi motivasi, beliau juga menyediakan banyak fasilitas penelitian dan pendanaan. Itu yang membuat saya semakin produktif," jelasnya pada Selasa (30/9/2025) melalui keterangan UB. Ia menambahkan bahwa fasilitas dan pendanaan yang memadai menjadi faktor kunci dalam keberhasilan penelitiannya.

Fokus Penelitian: Potensi Temu Kunci sebagai Antikanker Payudara

Salah satu fokus utama penelitian Hermawan adalah pengembangan kombinasi tiga herbal sebagai agen antikanker payudara. Riset ini, yang belum pernah dilakukan sebelumnya, menjanjikan potensi besar dalam pengobatan kanker payudara.

Tantangan dan Terobosan dalam Riset Antikanker

Hermawan mengakui bahwa penelitian ini penuh tantangan. "Penelitian eksperimental sering mengalami kegagalan," ujarnya. Namun, ketekunan mengantarkannya pada terobosan. "Di balik ribuan kegagalan tersebut, ada satu keberhasilan. Alhamdulillah, itulah yang membawa saya lulus dan menghasilkan banyak luaran di jurnal internasional," tuturnya.

Publikasi di Jurnal Internasional

Hasil penelitian Hermawan telah dipublikasikan di berbagai jurnal internasional bereputasi. Salah satunya adalah artikel tentang potensi temu kunci (Boesenbergia rotunda) sebagai antikanker payudara menggunakan metode bioinformatika inovatif, yang diterbitkan di Wiley pada tahun 2022. Pengalaman riset selama enam bulan di Jepang juga membuahkan publikasi dalam jurnal Molecules pada tahun 2025, yang membahas potensi temu kunci sebagai antiinflamasi dan antiobesitas. "Pengalaman riset ini menurut saya juga pengalaman yang paling berkesan," imbuhnya.

Kualitas dan Lingkungan Riset Kondusif Jadi Resep Produktivitas

Hermawan menekankan bahwa kunci produktivitas dalam penelitian bukan hanya kuantitas, tetapi juga kualitas.

Mengutamakan Kualitas Penelitian

"Jika hanya mengacu pada kuantitas, maka nanti akan ada banyak karya yang dihasilkan, tetapi sitasinya sedikit. Sehingga, selain kuantitas, kualitas juga penting," jelasnya. Menurutnya, penelitian yang berkualitas akan memberikan dampak lebih besar dan mendapat pengakuan dari komunitas ilmiah internasional.

Ekosistem Riset yang Suportif di UB

Hermawan juga menyoroti pentingnya lingkungan riset yang kondusif. "Di Lab Biomol UB sudah dibangun ekosistem riset yang suportif oleh Prof Muhaimin Rifa'i dan Prof Sasmito Djati. Jadi kita ke lab itu tidak stres," katanya. Ia menambahkan bahwa tujuan yang jelas dan ekosistem riset yang baik akan mempermudah peneliti untuk menghasilkan publikasi berkualitas. "Dengan tujuan yang jelas, kemudian ekosistem riset yang bagus, saya yakin semua pasti bisa untuk menghasilkan banyak publikasi berkualitas," tegasnya.

Pesan untuk Mahasiswa Pascasarjana: Jangan Mudah Menyerah!

Kepada mahasiswa pascasarjana, Hermawan berpesan untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan penelitian.

Hadapi Pasang Surut Penelitian dengan Tenang

"Mungkin penelitian itu ada pasang surutnya. Pas surut, ya mungkin istirahat dulu ya pas surut ya. Tapi jangan terlalu lama. Karena studi itu ada waktunya ya. S2 itu dua tahun, S3 itu tiga tahun bagusnya," ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya manajemen waktu yang baik agar studi dapat diselesaikan tepat waktu.

Jalin Hubungan Baik dengan Pembimbing dan Nikmati Hidup

Hermawan juga menekankan pentingnya menjalin hubungan baik dengan promotor atau pembimbing. "Jalani hubungan yang baik dengan promotornya atau pembimbingnya," pesannya. Selain itu, ia mengingatkan untuk tidak lupa menikmati hidup di tengah kesibukan studi.

Target Berikutnya: Publikasi di Jurnal Bereputasi Tinggi

Saat ini, Hermawan melanjutkan karirnya sebagai research fellow di Pusat Studi Biosistem DRPM UB, posisi yang setara dengan postdoctoral fellow. Ia memiliki target yang lebih tinggi, yaitu mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal-jurnal bereputasi tinggi, termasuk Nature.

"Semoga ke depan saya dan rekan-rekan peneliti yang lain bisa menghasilkan publikasi yang sangat bagus. Syukur-syukur nanti bisa publish di Nature. Itu kan ikut mengangkat nama UB juga," harapnya. Pencapaian Hermawan diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para mahasiswa dan peneliti muda di Indonesia untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi positif bagi ilmu pengetahuan. Keberhasilannya membuktikan bahwa dengan kerja keras, dedikasi, dan dukungan yang tepat, mimpi setinggi apapun dapat diraih.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.