Kisah Inspiratif, PKBM Ubah Hidup Anak Punk dan Ibu Rumah Tangga

Table of Contents
Kisah Inspiratif, PKBM Ubah Hidup Anak Punk dan Ibu Rumah Tangga


Di pelosok negeri, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) memainkan peran krusial dalam memberikan pendidikan nonformal yang inklusif. Lembaga ini menjadi wadah bagi berbagai lapisan masyarakat, dari anak punk hingga ibu rumah tangga, untuk meningkatkan kualitas hidup melalui pendidikan dan keterampilan.

Salah satu kisah inspiratif datang dari PKBM An-Nur Ibun di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Lembaga ini telah memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat sekitar.

PKBM An-Nur Ibun: Lebih dari Sekadar Sekolah

Berdiri sejak 2004, PKBM An-Nur Ibun telah hadir selama lebih dari dua dekade. Afifah Tri Ananda, Kepala Sekolah PKBM An-Nur Ibun, mengungkapkan pada Jumat (26/9/2025) di Jakarta, bahwa lembaga yang dipimpinnya tak hanya berfokus pada pendidikan formal. Lebih dari itu, PKBM ini menekankan pada pengembangan life skill atau keterampilan hidup yang dibutuhkan sehari-hari.

"Kita sudah dari 2004, jadi 21 tahunan. Kita juga semuanya based on life skill, jadi nggak cuma terkait dengan pendidikan secara formal aja, tapi diajarkan juga untuk skill kehidupan mereka sehari-hari. Jadi mulai dari mereka harus menciptakan produk, jadi bisa punya keuangan yang lebih stabil di keluarganya," jelas Afifah.

Saat ini, PKBM An-Nur Ibun telah membina lebih dari seratus warga dengan beragam latar belakang. Semangat untuk memanfaatkan potensi lokal dan memberikan kesempatan belajar bagi semua, termasuk mereka yang sering terpinggirkan, menjadi pendorong utama keberadaan PKBM ini. Fokusnya tak hanya pada akademis, namun juga pada pelatihan yang meningkatkan ekonomi keluarga.

Merangkul Anak Punk dengan Sentuhan Personal

Salah satu program unggulan PKBM An-Nur Ibun adalah merangkul anak punk dan memberi mereka wadah untuk berkembang. Dr. Yanti Lidiati, SE, MM, pendiri PKBM, turun langsung berinteraksi dengan komunitas anak punk di sekitar wilayah tersebut.

"Awalnya ibu saya yang memang turun langsung ke sana, merangkul mereka keliling kampung dan nongkrong sama mereka di kampungnya mereka, itu ibu saya yang turun langsung," ungkap Afifah.

Pendekatan personal ini menjadi kunci untuk membangun kepercayaan dan membuka jalan bagi anak-anak punk untuk terlibat dalam kegiatan positif.

Pengembangan Soft Skill untuk Bekal Masa Depan

Tak hanya memberikan pendidikan formal, PKBM An-Nur Ibun juga fokus pada pengembangan soft skill bagi anak punk. Mereka diajarkan manajemen emosi, cara pandang positif terhadap hidup, dan cara bersosialisasi.

"Kalau untuk anak punk itu mereka belajarnya lebih ke soft skill kayak management emosi, bagaimana cara mereka memandang hidup. Dalam artian hidup itu nggak cuma terkait dengan uang aja, tapi ada hal yang lebih penting dibandingkan itu, kayak misalnya contohnya adalah gimana cara mereka bersosialisasi dengan warga," jelas Afifah.

Anak-anak punk juga dilatih keterampilan seni seperti bermain musik dan bernyanyi. Hasilnya, banyak dari mereka yang kini tampil di acara-acara kelurahan, menunjukkan bakat mereka kepada masyarakat.

"Sekarang alhamdulillah mereka sudah berkembang ya. Sudah nggak bergaul punk lagi, ada yang hapus tato, ada yang pakaiannya udah seperti orang kebanyakan, nggak pakai anting dan tindik lagi," kata Afifah. Transformasi ini membuktikan bahwa pendekatan yang tepat dapat mengubah hidup anak-anak punk menjadi lebih baik.

Sentuhan Kasih untuk Warga Disabilitas

Selain anak punk, PKBM An-Nur Ibun juga merangkul warga disabilitas. Saat ini, ada sekitar 18 warga disabilitas berusia 17-30 tahun belajar di sana. Sebagian besar dari mereka adalah penyandang autisme.

"Disabilitas itu rata-rata mereka autis. Ada 18 anak, gurunya ada sekitar 6 orang khusus yang menangani autis. Dan gurunya itu standby 24 jam standby 6 orang itu," jelas Afifah.

Program ini bertujuan membantu mereka mandiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Guru-guru memberikan pendampingan intensif, mengajarkan keterampilan dasar seperti makan sendiri dan mengurangi ketergantungan pada obat-obatan.

Ibu Rumah Tangga Berdaya Lewat Wirausaha

PKBM An-Nur Ibun juga aktif memberdayakan ibu rumah tangga di sekitarnya dengan melatih keterampilan berwirausaha. Pelatihan yang diberikan mencakup berbagai bidang, mulai dari pembuatan makanan ringan, kerajinan tangan dari tekstil, hingga pembuatan tas.

"Ada 50-an jenis produk karena campur ya, nggak cuma makanan aja, ada tekstil, ada tas. Jadi lumayan membantu mereka karena punya pegangan untuk keluarga," ujar Afifah.

Dengan keterampilan ini, para ibu dapat menghasilkan produk yang bernilai jual, menambah pendapatan keluarga, dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Bahkan, produk-produk hasil karya ibu-ibu binaan PKBM An-Nur Ibun kini menerima pesanan dari berbagai perusahaan, termasuk Pertamina.

Kisah inspiratif PKBM An-Nur Ibun membuktikan pentingnya pendidikan nonformal dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dengan pendekatan inklusif dan fokus pada pengembangan keterampilan hidup, PKBM ini memberikan dampak positif bagi komunitas sekitarnya, merangkul berbagai lapisan masyarakat, termasuk anak punk dan ibu rumah tangga, untuk meraih masa depan yang lebih baik. Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan bahwa hingga Februari 2025, terdapat 10.458 lembaga PKBM di seluruh Indonesia dengan 43.893 tutor pendidik dan 1.899.000 peserta didik, yang menegaskan kontribusi signifikan PKBM dalam sistem pendidikan nasional.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.