Menu MBG Diprotes, BGN Bilang Begini, Ternyata Banyak yang Minta Variasi Lho!

Table of Contents
Menu MBG Diprotes, BGN Bilang Begini, Ternyata Banyak yang Minta Variasi Lho!


Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah inisiatif ambisius untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, kini tengah menjadi perbincangan hangat. Sorotan tajam datang dari para ahli gizi yang mempertanyakan variasi menu yang disajikan. Di tengah ramainya perdebatan, Badan Gizi Nasional (BGN) pun tampil memberikan klarifikasi.

Menu MBG Dikritik, BGN Buka Suara: "Banyak yang Minta Variasi!"

Program MBG menuai kritik pedas terkait pilihan menunya. Namun, Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan penjelasan atas polemik yang berkembang.

Apa yang Membuat Ahli Gizi Mengkritik Menu MBG?

Kritik terhadap menu MBG semakin deras, terutama setelah dr. Tan Shot Yen, seorang ahli gizi terkemuka, menyampaikan pendapatnya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IX DPR RI pada Senin, 22 September 2025. Ia menyoroti pemilihan menu yang dianggap kurang tepat sasaran, bahkan berpotensi menghambat tujuan awal program.

Sorotan pada Menu Berbasis Tepung

Salah satu poin utama yang menjadi perhatian adalah hadirnya menu olahan seperti burger dan spageti. Dr. Tan mempertanyakan relevansi makanan berbahan dasar tepung terigu, mengingat komoditas tersebut tidak tumbuh di Indonesia. "Yang dibagi adalah burger. Di mana tepung terigu tidak pernah tumbuh di bumi Indonesia, nggak ada anak muda yang tahu bahwa gandum tidak tumbuh di bumi Indonesia," ujarnya dengan nada prihatin.

Ia juga menyoroti kualitas variasi menu yang dianggap kurang memadai, terutama di daerah dengan anggaran terbatas. Menurutnya, burger yang seharusnya bergizi justru diisi dengan bahan-bahan olahan yang kurang sehat. "Dibagi spageti, dibagi bakmi Gacoan, oh my god. Dan maaf, ya, itu isi burgernya itu kastanisasi juga, kalau yang dekat dengan pusat supaya kelihatan bagus dikasih chicken katsu. Tapi coba kalau yang di daerah yang SPPG-nya juga sedikit main, dikasih itu loh benda tipis berwarna pink, saya aja nggak pernah mengatakan ini adalah daging olahan," ungkap dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tahun 1991 ini.

Masalah Intoleransi Laktosa pada Etnis Melayu

Selain menu utama, dr. Tan juga mengkritik penyertaan susu kemasan dalam paket MBG. Ia menyoroti fakta bahwa mayoritas masyarakat Indonesia, khususnya etnis Melayu, memiliki intoleransi laktosa. "Menurut Permenkes tahun 2014, udah sebelas tahun, lo, bisa dicatat, dicari dokumennya, kita itu udah keluar dari empat sehat lima sempurna. Saya nggak tahu apakah anggota dewan yang terhormat masih tahu itu," imbuhnya.

Menurutnya, susu bukanlah sumber protein hewani yang paling penting, mengingat Indonesia memiliki sumber protein hewani lain yang lebih mudah didapatkan, seperti telur, ikan, dan daging. Dr. Tan juga mengapresiasi kesadaran masyarakat yang semakin meningkat dalam memilih produk susu yang berkualitas dan menghindari minuman dengan kandungan gula tinggi.

Mengapa Makanan Kering Ada di Menu MBG?

Pertanyaan juga muncul terkait keberadaan makanan kering (snack) dalam menu MBG. Dr. Tan berpendapat bahwa makanan ringan tidak sesuai dengan tujuan program yang seharusnya fokus pada pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak. "Itu kan nggak masuk di akal sama sekali," tegasnya.

Apa Kata Badan Gizi Nasional (BGN)?

Menanggapi berbagai kritik yang muncul, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa variasi menu MBG seringkali disesuaikan dengan permintaan anak-anak agar mereka tidak bosan. "Sering kali itu variasi atas permintaan anak-anak agar tidak bosan," ujarnya kepada wartawan pada Jumat, 26 September 2025, seperti dikutip dari berbagai sumber.

Apakah Variasi Menu Sesuai dengan Kebutuhan Gizi Anak?

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa BGN berusaha mengakomodasi selera anak-anak dalam penyusunan menu MBG. Dengan memberikan variasi menu yang lebih beragam, diharapkan anak-anak akan lebih bersemangat dalam mengonsumsi makanan bergizi yang disediakan. Namun, hal ini menimbulkan pertanyaan baru: apakah selera anak-anak selalu sejalan dengan kebutuhan gizi mereka?

Evaluasi Berdasarkan Kritik dan Saran Masyarakat

Lebih lanjut, Dadan Hindayana menekankan bahwa setiap kritik dan saran dari masyarakat mengenai MBG akan menjadi bahan evaluasi bagi BGN. Ia berjanji untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas program MBG agar tujuannya tercapai.

"Setiap masukan dari masyarakat, termasuk kritik dari para ahli gizi, akan kami tampung dan evaluasi secara seksama. Kami akan terus berupaya untuk menyempurnakan menu MBG agar sesuai dengan kebutuhan gizi anak-anak Indonesia," jelasnya.

Program MBG, meskipun memiliki tujuan yang mulia, tetap membutuhkan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan. Kritik yang membangun dari berbagai pihak, termasuk ahli gizi dan masyarakat, sangat penting untuk memastikan bahwa program ini benar-benar efektif dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Diharapkan BGN dapat lebih mempertimbangkan aspek gizi dan kesehatan dalam penyusunan menu MBG, serta melibatkan ahli gizi dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, program MBG dapat menjadi solusi yang tepat dan berkelanjutan untuk mengatasi masalah gizi pada anak-anak Indonesia.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.