Ambisi Prabowo untuk UI, Mungkinkah Jadi Top 100 Universitas Dunia?
Presiden terpilih Prabowo Subianto punya harapan besar: Universitas Indonesia (UI) bisa merangsek masuk ke jajaran 100 besar universitas terbaik di dunia. Pertanyaannya, mungkinkah target ambisius ini tercapai? Pernyataan Prabowo ini tentu memicu perbincangan hangat mengenai tantangan yang ada serta langkah-langkah strategis yang perlu diambil UI.
Apresiasi Prabowo dan Tanggapan UI
Prabowo Subianto secara terbuka memberikan apresiasi atas capaian UI yang berhasil menjadi universitas pertama di Indonesia yang menembus peringkat 200 besar QS World University Rankings (WUR) 2026. Menurutnya, pencapaian ini adalah angin segar bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Dalam Sidang Kabinet Paripurna (SKP) yang berlangsung di Istana Negara, Jakarta, pada 20 Oktober 2025, Prabowo bahkan secara khusus meminta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) beserta wakilnya untuk fokus memastikan UI mampu bersaing di 100 besar dunia. "Ini akan memicu universitas lain seperti ITB, UGM, dan ITS untuk ikut berlomba di level global," ujarnya.
Menanggapi target tersebut, Rektor UI Heri Hermansyah mengungkapkan bahwa ini adalah pekerjaan rumah besar yang harus dikerjakan bersama antara pihak universitas dan pemerintah. "Ini PR kita bersama. Majelis Wali Amanat (MWA) menargetkan peringkat 160, namun Presiden menetapkan target 100. Mari kita bergerak bersama," kata Heri saat peresmian Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) UI pada 22 Oktober 2025.
Mengapa Target 100 Besar?
Target yang diberikan Prabowo bukan tanpa dasar. Ia meyakini bahwa pendidikan tinggi yang bermutu adalah kunci utama kemajuan bangsa. Dengan meningkatkan kualitas dan daya saing UI, diharapkan akan lahir lulusan-lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional. Peningkatan peringkat ini juga diharapkan dapat menjadi pemacu semangat bagi universitas-universitas lain di Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian mereka.
PR Besar UI Menuju 100 Besar Dunia
Pendanaan, Ekosistem Akademik, dan Gaji Dosen
Heri Hermansyah menegaskan bahwa untuk mencapai target tersebut, dukungan pendanaan yang signifikan sangatlah krusial. Dana ini harus dialokasikan untuk berbagai program peningkatan kualitas, termasuk perbaikan sistem rekrutmen dosen berkualitas tinggi. "Tanpa dukungan finansial yang memadai, akan sulit bersaing dengan universitas-universitas top dunia yang memiliki anggaran riset dan fasilitas yang jauh lebih besar," jelasnya.
Selain pendanaan, Heri juga menyoroti pentingnya memperkuat ekosistem akademik yang kondusif. Hal ini mencakup fasilitas riset yang modern, perpustakaan yang lengkap, serta lingkungan yang mendukung kolaborasi dan inovasi. Ia juga menekankan bahwa pemberian remunerasi yang kompetitif bagi dosen juga menjadi faktor penentu. "Jika gaji dan fasilitas yang ditawarkan tidak menarik, dosen-dosen terbaik akan memilih untuk bekerja di luar negeri," ungkapnya. Informasi terkini menunjukkan bahwa gaji dosen di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara maju.
Pembenahan Sistem Rekrutmen Dosen
Sistem rekrutmen dosen juga menjadi perhatian utama. Menurut Heri, UI perlu berbenah agar mampu menarik talenta-talenta terbaik dari dalam maupun luar negeri. Ia mencontohkan praktik yang dilakukan di China, di mana universitas-universitas di sana secara aktif merekrut akademisi dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. "Yang mereka rekrut itu adalah talent-talent terbaik berdasarkan kompetensi di bidang pendidikan dan inovasinya," kata Heri.
Heri menambahkan bahwa sistem rekrutmen di universitas di Indonesia belum sepenuhnya berorientasi pada kompetensi dan inovasi. Proses seleksi seringkali masih terpaku pada aspek formalitas dan kurang memperhatikan potensi kandidat dalam menghasilkan riset berkualitas. "Kita perlu mencontoh negara lain yang berani memberikan kesempatan kepada talenta-talenta muda yang memiliki ide-ide brilian, meskipun mereka belum memiliki pengalaman yang panjang," ujarnya.
Mempermudah Administrasi Mahasiswa Internasional
Reputasi sebuah universitas juga sangat dipengaruhi oleh jumlah mahasiswa internasional yang belajar di sana. Semakin banyak mahasiswa asing yang memilih UI sebagai tempat studi, semakin tinggi pula reputasi universitas tersebut di mata dunia. Untuk menarik lebih banyak mahasiswa internasional, UI perlu mempermudah proses administrasi, khususnya terkait dengan visa dan izin tinggal.
Heri mencontohkan negara-negara tetangga seperti Australia, Malaysia, dan Singapura yang memiliki layanan satu pintu (one-stop service) untuk mempermudah pengurusan dokumen imigrasi bagi mahasiswa asing. "Di Indonesia, proses pengurusan visa masih sangat rumit dan memakan waktu. Calon mahasiswa asing harus datang ke berbagai instansi pemerintah untuk mendapatkan surat-surat yang diperlukan," jelasnya.
Kemudahan administrasi ini penting untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan menarik bagi mahasiswa internasional. UI sendiri tengah gencar mempromosikan berbagai program studi yang diminati oleh mahasiswa asing, seperti kedokteran, sosial humaniora, kesehatan masyarakat, lingkungan, demokrasi, dan kebudayaan. "Mahasiswa asing bukan hanya sumber devisa, tetapi juga duta yang akan menyebarkan citra positif Indonesia di negara mereka," pungkas Heri.
Meskipun tantangan untuk mencapai peringkat 100 besar dunia tidaklah mudah, dengan dukungan pemerintah, pembenahan sistem internal, dan peningkatan kualitas dosen serta fasilitas riset, ambisi Prabowo untuk UI bukanlah sesuatu yang mustahil. Peningkatan peringkat UI juga akan berdampak positif bagi pendidikan tinggi di Indonesia secara keseluruhan, mendorong universitas lain untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas dan daya saing mereka di kancah internasional.