Gelar Ganda dalam Waktu Singkat? Kisah Inspiratif Alissa dari Unair dan Inggris

Table of Contents
Gelar Ganda dalam Waktu Singkat? Kisah Inspiratif Alissa dari Unair dan Inggris


Alissa Angelia membuktikan bahwa ambisi meraih dua gelar sekaligus bukanlah isapan jempol belaka. Dalam waktu singkat, empat tahun saja, ia berhasil menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) dan University of Durham, Inggris. Kisah inspiratifnya ini tentu membuat banyak orang bertanya, bagaimana ia bisa melakukannya? Apa yang membuatnya memilih jalur pendidikan yang terbilang unik ini?

Jejak Gemilang: Program Kolaborasi Unair dan University of Durham

Kesuksesan Alissa berawal dari program kolaborasi fast track yang inovatif antara Unair dan University of Durham. Program ini dirancang untuk memfasilitasi mahasiswa berprestasi agar dapat meraih gelar sarjana (S1) dan magister (S2) dalam waktu yang lebih efisien. Bisa dibilang, ini adalah "jalan tol" bagi mereka yang ingin menembus pendidikan tinggi di level internasional.

Awal Mula Ketertarikan: Peluang yang Tak Disia-siakan

Alissa pertama kali mendengar tentang program fast track ini saat ia duduk di semester lima Fakultas Hukum Unair. Peluang emas untuk menuntaskan dua jenjang pendidikan sekaligus, ditambah kesempatan belajar di universitas bergengsi di luar negeri, langsung memikat hatinya. "Saya melihat ini sebagai kesempatan luar biasa untuk mempercepat karir akademik dan memperluas wawasan," ungkapnya.

Setelah melewati serangkaian seleksi ketat yang menguji kemampuan akademis, penguasaan bahasa Inggris, dan motivasi, Alissa dinyatakan lolos. Petualangan barunya di tanah Britania Raya pun dimulai.

Pengalaman di University of Durham: Adaptasi dan Ketekunan

Setibanya di University of Durham, Alissa langsung merasakan atmosfer akademik yang berbeda dan penuh tantangan. Sistem perkuliahan yang baru, metode pembelajaran yang interaktif, dan tuntutan riset yang mendalam menjadi bagian dari rutinitasnya. "Awalnya terasa berat, jujur saja. Beradaptasi dengan budaya dan sistem pendidikan yang berbeda butuh waktu dan tenaga ekstra," kenang Alissa.

Namun, dengan semangat belajar yang membara dan dukungan dari para dosen serta teman-teman, Alissa berhasil mengatasi setiap rintangan. Ia aktif berpartisipasi dalam diskusi kelas, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, dan memanfaatkan berbagai sumber daya yang tersedia di universitas.

Perbandingan Sistem Pendidikan: Unair versus Durham

Salah satu perbedaan paling mencolok yang dirasakan Alissa adalah sistem penilaian di kedua universitas. Di Unair, nilai akhir umumnya ditentukan oleh ujian tulis dan tugas-tugas. Sementara di University of Durham, bobot penilaian lebih condong ke penulisan esai dan partisipasi aktif di kelas. "Di Durham, kemampuan analitis dan argumentasi sangat dihargai. Kami dituntut untuk berpikir kritis dan mampu menyampaikan ide secara jelas dan logis," jelasnya, seperti dikutip dari laman Unair, Minggu (5/10/2025).

Selain itu, budaya akademik juga memiliki perbedaan. Di University of Durham, interaksi antara dosen dan mahasiswa terjalin lebih erat. Dosen seringkali membuka diri untuk diskusi di luar jam kuliah, memberikan umpan balik yang konstruktif, dan mendorong mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri. Di Unair, meskipun dosen juga suportif, interaksi formal di dalam kelas cenderung lebih dominan.

Perbedaan aksen bahasa dan budaya juga menjadi tantangan tersendiri bagi Alissa, terutama dalam hal bersosialisasi. Namun, ia berhasil mengatasinya dengan aktif berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan membuka diri untuk mempelajari budaya baru. "Awalnya memang tidak mudah, tapi pengalaman ini sangat berharga. Saya belajar menghargai perbedaan dan beradaptasi dengan lingkungan yang beragam," ujarnya.

Ketertarikan Mendalam pada Hukum Internasional

Selama menempuh studi di Fakultas Hukum Unair, Alissa menemukan ketertarikan yang kuat pada bidang hukum internasional. Ia tertarik dengan isu-isu global seperti hak asasi manusia, hukum laut, dan kejahatan internasional. Ketertarikannya ini kemudian ia tuangkan dalam tesisnya, yang membahas tentang kriteria pelaku kejahatan pidana internasional yang dapat diadili di Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

"Tesis saya meneliti apakah pelaku kejahatan internasional harus memiliki jabatan tinggi, atau apakah bawahan juga dapat diadili di ICC," jelas Alissa. Penelitiannya ini dilatarbelakangi oleh kompleksitas dalam penegakan hukum internasional, khususnya terkait dengan tanggung jawab individu dalam kejahatan yang melibatkan banyak pihak.

Pilihan topik tesis ini mencerminkan komitmen Alissa terhadap isu-isu keadilan dan akuntabilitas dalam skala global. Ia berharap hasil penelitiannya dapat memberikan kontribusi bagi pemahaman yang lebih baik tentang hukum internasional dan penerapannya.

Harapan dan Rencana Kontribusi untuk Indonesia

Dengan gelar ganda yang sebentar lagi akan ia genggam (Alissa dijadwalkan untuk diwisuda dari University of Durham pada Januari 2026 mendatang), Alissa memiliki harapan besar untuk memberikan kontribusi positif bagi Indonesia, khususnya di bidang hukum internasional. Ia bercita-cita untuk berkiprah di organisasi internasional, lembaga pemerintah, atau lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang hukum dan hak asasi manusia.

"Saya berharap dapat membawa nama baik Indonesia di kancah internasional. Saya ingin mengenalkan budaya dan kekuatan Indonesia di mata dunia," tegas Alissa. Ia juga memiliki keinginan untuk berkontribusi dalam pengembangan hukum internasional di Indonesia, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu-isu global.

Lebih lanjut, Alissa berencana untuk terus mengembangkan diri dengan mengikuti pelatihan dan seminar di bidang hukum internasional. Ia juga ingin membangun jaringan dengan para ahli dan praktisi hukum internasional dari berbagai negara.

Kisah Alissa Angelia ini menjadi bukti nyata bahwa dengan kerja keras, tekad yang membaja, dan dukungan dari berbagai pihak, impian untuk meraih gelar ganda di universitas ternama di dalam dan luar negeri dapat menjadi kenyataan. Ia adalah inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus berprestasi dan memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara. Unair sendiri terus berupaya memperluas kerja sama dengan universitas-universitas terkemuka di dunia, guna memberikan kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswanya untuk mengejar pendidikan tinggi di kancah internasional. Program-program kolaborasi seperti fast track ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan-lulusan berkualitas yang mampu bersaing di pasar kerja global dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.