Indonesia Siap Mendunia di UNESCO, Ada Apa di Balik Layar?
Indonesia makin percaya diri unjuk gigi di kancah internasional! Kabar baik datang dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), di mana bahasa Indonesia resmi didapuk menjadi salah satu bahasa yang digunakan dalam forum tersebut mulai Sidang Umum 2025. Apa saja implikasinya, dan bagaimana persiapan Indonesia menyambut momen bersejarah ini?
Bahasa Indonesia Mendunia: Simbol Pengakuan
Penetapan ini bukan sekadar formalitas. Lebih dari itu, ini adalah pengakuan atas identitas bangsa di mata dunia. Dalam forum sekelas UNESCO, bahasa adalah representasi budaya, sejarah, dan nilai-nilai luhur sebuah negara.
"Ini adalah momen bersejarah bagi bangsa Indonesia," tegas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/5/2024). "Pengakuan ini akan memperkuat posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional, membuka pintu kerja sama yang lebih luas."
Mulai sekarang, bahasa Indonesia akan hadir dalam berbagai dokumen resmi UNESCO, seperti amandemen konstitusi, resolusi, dan laporan sidang. Kita juga akan mendengarnya dalam sidang pleno dan berbagai forum diskusi lainnya.
Memahami Perbedaan: Bahasa Resmi vs. Bahasa Kerja
Penting untuk dicatat, ada perbedaan antara "bahasa resmi" (official languages) dan "bahasa kerja" (working languages) di UNESCO. Perbedaan ini tertuang dalam Rules of Procedure of the General Conference UNESCO.
Bahasa kerja adalah bahasa yang digunakan sehari-hari dalam debat, interpretasi simultan, dan penyusunan dokumen selama sidang berlangsung. Sementara bahasa resmi, cakupannya lebih luas. Ia digunakan untuk menerjemahkan dokumen-dokumen penting dan resmi, serta dalam komunikasi resmi antar delegasi.
Singkatnya, bahasa kerja memfasilitasi komunikasi langsung, sedangkan bahasa resmi memastikan semua dokumen dan keputusan penting tersedia dalam bahasa yang diakui secara global, termasuk bahasa kita tercinta, bahasa Indonesia.
Daftar 10 Bahasa Resmi Sidang Umum UNESCO 2025
Sesuai aturan yang berlaku, ada sepuluh bahasa resmi yang akan digunakan dalam Sidang Umum UNESCO 2025, yaitu:
1. Arab 2. Bahasa Indonesia 3. Mandarin 4. Inggris 5. Prancis 6. Hindi 7. Italia 8. Portugis 9. Rusia 10. Spanyol
Untuk bahasa kerja, Sidang Umum UNESCO tetap menggunakan enam bahasa: Arab, China, Inggris, Prancis, Rusia, dan Spanyol. Namun, ada pengecualian. Delegasi boleh menggunakan bahasa non-kerja, asalkan mereka menyediakan interpretasi ke salah satu bahasa kerja. Selanjutnya, Sekretariat UNESCO akan menyediakan interpretasi ke bahasa kerja lainnya.
Kilasan Balik: Perjalanan Panjang Bahasa Indonesia di UNESCO
Proses pengajuan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi UNESCO bukan perjalanan singkat. Pemerintah Indonesia secara resmi mengajukan proposal pada 29 Maret 2023. Usulan ini kemudian melalui serangkaian pembahasan dan evaluasi oleh UNESCO.
Puncaknya terjadi pada Sidang Umum ke-42 UNESCO di Paris, 20 November 2023. Di sanalah, bahasa Indonesia resmi ditetapkan sebagai bahasa resmi ke-10 UNESCO.
"Penetapan ini adalah hasil kerja keras dan diplomasi panjang," ungkap Duta Besar Republik Indonesia untuk UNESCO, Prof. Dr. Surya Rosa Putra, saat dihubungi melalui telepon. "Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung upaya ini."
Menurut data Kementerian Luar Negeri, penetapan ini didasari oleh kajian mendalam terkait representasi, relevansi, dan potensi bahasa Indonesia di dunia internasional. Faktor-faktor seperti jumlah penutur, sebaran geografis, dan peran bahasa Indonesia dalam diplomasi juga menjadi pertimbangan utama.
Menuju Sidang Umum UNESCO Mendatang
Sidang Konferensi Umum ke-43 UNESCO akan digelar pada 11 November 2025 di Samarkand, Uzbekistan, dan dilanjutkan pada 24-25 November 2025 di Markas Besar UNESCO, Paris.
Berbagai persiapan tengah dilakukan untuk menyambut agenda penting ini. Pemerintah Indonesia berencana mengirimkan delegasi yang kompeten dan terlatih untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai forum diskusi dan sidang pleno.
"Kami akan memastikan bahasa Indonesia digunakan secara optimal dalam semua kegiatan sidang," jelas Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid, PhD. "Kami juga akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia."
Persiapan juga mencakup peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama di kalangan staf UNESCO. Hal ini krusial demi kelancaran dan akurasi proses penerjemahan dan interpretasi.
Selain itu, diharapkan penetapan ini akan meningkatkan minat masyarakat internasional untuk mempelajari bahasa dan budaya Indonesia, membuka peluang bagi pengembangan program pendidikan dan pertukaran budaya antara Indonesia dan negara-negara lain.
Sebagai langkah strategis, pemerintah Indonesia akan terus memperkuat posisi bahasa Indonesia di forum-forum internasional lainnya, sejalan dengan visi untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain global yang aktif dan berpengaruh. Semoga langkah ini semakin mengharumkan nama bangsa dan membawa manfaat bagi kemajuan Indonesia di berbagai bidang.