Kim Il Sung di UI, Kisah Gelar Doktor Kehormatan yang Mungkin Belum Kamu Tahu

Table of Contents
Kim Il Sung di UI, Kisah Gelar Doktor Kehormatan yang Mungkin Belum Kamu Tahu


Pendiri Korea Utara, Kim Il Sung, yang juga merupakan kakek dari Kim Jong Un, ternyata memiliki jejak sejarah unik di Indonesia. Pada tahun 1965, di tengah era kedekatan ideologis dan politik antara Indonesia dan Korea Utara, Kim Il Sung menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Indonesia (UI). Momen ini menjadi simbol eratnya relasi kedua negara di era Sukarno.

Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa untuk Kim Il Sung

Latar Belakang di Balik Pemberian Gelar

Di era 1960-an, hubungan diplomatik yang hangat antara Indonesia dan Korea Utara menjadi fondasi kerja sama di berbagai bidang, termasuk pendidikan dan kebudayaan. Pemberian gelar doktor honoris causa kepada Kim Il Sung bukan sekadar seremoni, melainkan cerminan aliansi strategis dalam konstelasi politik global. Sukarno, dengan semangat anti-imperialismenya, memandang Korea Utara sebagai mitra penting dalam gerakan New Emerging Forces (NEFO), yang beranggotakan negara-negara berkembang yang ingin mandiri dari dominasi kekuatan Barat.

Gagasan pemberian gelar ini muncul saat kunjungan Kim Il Sung ke Indonesia pada April 1965, bertepatan dengan peringatan dasawarsa Konferensi Asia Afrika di Bandung. Sukarno memanfaatkan momen ini untuk mempererat persahabatan, dengan mengundang Kim Il Sung ke UI. Seorang sejarawan UI yang enggan disebut namanya menyatakan, "Undangan ini adalah bentuk pengakuan atas peran penting Kim Il Sung dalam perjuangan melawan penjajahan dan pembangunan bangsa."

Awalnya, Rektor UI saat itu, Prof. Dr. Soemantri Brodjonegoro, berencana memberikan gelar doktor di bidang ilmu sosial. Namun, Sukarno mengintervensi dan mengusulkan bidang teknik, karena Korea Utara sedang gencar membangun industri mesin dan infrastruktur. Perubahan ini mencerminkan betapa politisnya pemberian gelar tersebut, sekaligus visi Sukarno tentang pembangunan ekonomi berbasis industri.

Prosesi di Istana Negara

Lokasi penganugerahan gelar doktor honoris causa yang semula direncanakan di Kampus UI Salemba, mendadak dipindahkan ke Istana Negara. Perubahan yang dipicu alasan keamanan ini menambah kesan dramatis pada acara tersebut. Pada tanggal 15 April 1965, Kim Il Sung secara resmi menerima gelar doktor honoris causa dari UI di Istana Negara.

Acara tersebut dihadiri oleh pejabat tinggi negara, rektor UI, dan tokoh penting lainnya. Suasana terasa khidmat sekaligus politis. Pemberian gelar ini disiarkan luas oleh media massa di dalam dan luar negeri, sebagai bukti kedekatan Indonesia dan Korea Utara.

Prosesi pemberian gelar dilakukan dengan tata cara resmi dan protokoler kenegaraan. Rektor UI membacakan surat keputusan pemberian gelar, sementara Sukarno menyematkan toga dan topi doktor kepada Kim Il Sung. Momen ini diabadikan dalam foto dan rekaman video, menjadi saksi bisu sejarah persahabatan kedua negara.

Orasi Doktor Kim Il Sung

Dalam acara penganugerahan gelar, Kim Il Sung menyampaikan orasi doktor berjudul "Prinsip Kemandirian dalam Perjuangan Revolusioner Maupun dalam Pembangunan Sebuah Negara". Ia menekankan pentingnya kemandirian dan kepercayaan pada kekuatan sendiri dalam menghadapi tantangan global, serta menguraikan konsep "Juche," ideologi yang menjadi landasan kebijakan Korea Utara.

"Kemandirian adalah kunci keberhasilan suatu bangsa. Kita harus berdiri di atas kaki sendiri dan tidak bergantung pada bantuan pihak lain," tegas Kim Il Sung dalam orasinya. Ideologi Juche, yang menekankan kemandirian dalam politik, ekonomi, dan pertahanan, menjadi daya tarik tersendiri bagi Sukarno yang juga mengusung semangat anti-imperialisme dan berdikari.

Orasi Kim Il Sung disambut hangat oleh para hadirin. Pesan kemandirian dan semangat revolusioner yang disampaikannya sejalan dengan visi Sukarno tentang pembangunan bangsa yang mandiri dan berdaulat. Seorang mahasiswa UI yang hadir dalam acara tersebut mengatakan, "Orasi ini menginspirasi kami untuk terus berjuang demi kemerdekaan dan kemajuan bangsa."

Kunjungan ke Kebun Raya Bogor dan Anggrek Kimilsunga

Kunjungan Kim Il Sung ke Indonesia juga diwarnai momen santai dan personal. Salah satunya adalah kunjungannya ke Kebun Raya Bogor, tempat ia terpikat oleh keindahan anggrek.

Kim Il Sung tertarik pada sebuah anggrek hasil persilangan botanis keturunan Jerman, C L Bundt. Sukarno kemudian menghadiahkan bunga tersebut kepadanya. Anggrek tersebut dinamai "Kimilsunga," sebagai penghormatan kepada Kim Il Sung dan simbol persahabatan antara Indonesia dan Korea Utara.

Setelah melalui proses penyempurnaan selama 10 tahun, anggrek Kimilsunga secara resmi dikirim ke Korea Utara untuk dikembangbiakkan. Bunga ini kemudian menjadi ikon penting dalam budaya Korea Utara, bahkan menjadi nama festival bunga yang diperingati setiap bulan April. Keberadaan anggrek Kimilsunga di Korea Utara menjadi pengingat abadi tentang hubungan persahabatan yang pernah terjalin erat antara Indonesia dan Korea Utara.

Kim Il Sung: Pendiri Korea Utara dan Ideologi Juche

Kim Il Sung, lahir pada 15 April 1912, adalah tokoh sentral dalam sejarah Korea Utara. Ia memimpin negara tersebut sejak pendiriannya pada tahun 1948 hingga wafatnya pada tahun 1994. Selama lebih dari empat dekade kepemimpinannya, Kim Il Sung membangun Korea Utara menjadi negara sosialis yang unik, dengan ideologi Juche sebagai landasan utamanya.

Ideologi Juche menekankan kemandirian dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Prinsip ini mendorong Korea Utara untuk mengembangkan ekonomi, pertahanan, dan kebudayaan secara mandiri, tanpa bergantung pada bantuan atau pengaruh dari negara lain. Kebijakan ini telah membentuk identitas Korea Utara sebagai negara yang sangat independen dan berdaulat.

Warisan Kim Il Sung tetap hidup di Korea Utara hingga saat ini. Ia dihormati sebagai "Presiden Abadi" dan menjadi figur yang sangat penting dalam narasi sejarah dan identitas nasional Korea Utara. Kisah pemberian gelar doktor honoris causa dari UI menjadi bagian dari sejarah yang kompleks dan menarik tentang hubungan Indonesia dan Korea Utara di masa lalu.

Meskipun hubungan bilateral antara kedua negara mengalami pasang surut, momen bersejarah di UI pada tahun 1965 tetap menjadi pengingat tentang era ketika Indonesia memainkan peran penting dalam gerakan anti-imperialisme dan solidaritas antar negara berkembang. Kisah ini menyimpan nilai sejarah yang penting untuk dipahami dan direfleksikan.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.