Kisah Haru, Mimpi Lulus Sekolah di Gaza yang Terjajah

Table of Contents
Kisah Haru, Mimpi Lulus Sekolah di Gaza yang Terjajah


Di tengah pilunya perang yang mencabik Gaza, kisah Raghad Loai Mhanna, seorang remaja Palestina, bagaikan setetes embun di gurun pasir. Ia berhasil menamatkan pendidikan menengahnya dengan hasil yang membanggakan, sebuah pencapaian yang sungguh luar biasa di tengah konflik yang tak berkesudahan.

Asa di Tenda Pengungsian, Belajar Ditemani Sinar Senter

Perjuangan Raghad meraih kelulusan bukanlah jalan lurus tanpa rintangan. Perang, keterbatasan kebutuhan pokok, hingga tanggung jawab mengasuh keempat adik perempuannya, menjadi tantangan berat yang harus ia pikul. Terlebih lagi, ia harus terpisah dari sang ibu. Hidup di tenda pengungsian di Deir al-Balah, Gaza tengah, tak memadamkan semangat belajarnya.

Minimnya pasokan listrik dan akses internet memaksanya untuk beradaptasi. Seringkali, cahaya senter dari ponsel menjadi satu-satunya penerangannya saat belajar di malam hari. "Kondisinya memang sangat sulit, tapi saya tak ingin menyerah pada mimpi," ungkap Raghad dalam sebuah wawancara.

Sistem Pendidikan Hancur, Akses Terbatas

Sebelum ujian tiba, Raghad harus menempuh perjalanan panjang demi mengikuti les privat. Sistem pendidikan di Gaza luluh lantak akibat konflik yang berkepanjangan. Banyak sekolah yang rusak berat atau bahkan hancur total, membuat proses belajar mengajar menjadi sangat sulit. "Kami kekurangan buku, alat tulis, bahkan tempat yang aman untuk belajar," keluh seorang guru di Gaza yang memilih untuk tidak disebutkan namanya.

Namun, Raghad tak goyah. Usai les, ia kembali ke tenda pengungsian setiap malam dan langsung membantu merawat adik-adiknya serta menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. "Saya berusaha sebaik mungkin untuk membagi waktu antara belajar dan membantu keluarga," tuturnya.

Nilai 85 Persen dan Secercah Harapan

Setelah perjuangan panjang yang menguras tenaga dan pikiran, Raghad akhirnya berhasil meraih nilai 85 persen dalam ujian akhirnya. Pencapaian ini sungguh luar biasa, mengingat kondisi serba sulit yang ia hadapi. "Saya sangat bahagia dan bersyukur atas hasil ini. Ini adalah bukti bahwa mimpi bisa diraih meski dalam situasi yang paling sulit sekalipun," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Lebih dari sekadar nilai, kelulusan Raghad adalah simbol harapan bagi generasi muda Gaza yang berjuang di tengah perang. Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk tidak menyerah pada mimpi, meski dunia di sekitar mereka tampak hancur berantakan.

Penghancuran Sistematis Pendidikan di Gaza

Sekolah dan Universitas Jadi Sasaran Kerusakan Parah

Perang telah menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur pendidikan di Gaza. Banyak sekolah dan universitas yang hancur akibat serangan udara dan pertempuran di darat. Data terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Gaza, yang sebelum perang sudah dilanda kemiskinan dan pengangguran tinggi, kini semakin terpuruk akibat hancurnya berbagai fasilitas publik, termasuk lembaga pendidikan.

Kementerian Pendidikan Palestina melaporkan bahwa ratusan sekolah hancur total atau sebagian. "Ini adalah penghancuran sistematis terhadap fasilitas pendidikan yang dilakukan secara sengaja," tegas seorang pejabat Kementerian Pendidikan yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan. Amjad Barham, Menteri Pendidikan Palestina, juga menyatakan hal senada pada Agustus 2023, bahwa Israel melakukan penghancuran sistematis terhadap sekolah dan universitas, dengan 293 dari 307 sekolah hancur seluruhnya atau sebagian.

Masa Depan Suram Generasi Muda Gaza

Hancurnya fasilitas pendidikan ini berdampak sangat besar pada masa depan generasi muda Gaza. Anak-anak dan remaja kehilangan akses terhadap pendidikan, yang merupakan kunci untuk membangun masa depan yang lebih baik. Banyak siswa yang terpaksa putus sekolah karena tidak ada tempat yang aman untuk belajar.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa sebagian besar fasilitas pendidikan di Gaza mengalami kerusakan signifikan. Penilaian kerusakan berbasis satelit pada Juli menunjukkan, 97 persen fasilitas pendidikan di Gaza mengalami kerusakan dan 91 persennya membutuhkan rehabilitasi besar atau rekonstruksi total agar berfungsi kembali. "Jika kita tidak segera bertindak, kita akan kehilangan satu generasi yang berpotensi," kata seorang perwakilan PBB di Gaza.

"Ini adalah tragedi kemanusiaan yang nyata. Anak-anak berhak mendapatkan pendidikan, terlepas dari situasi politik dan keamanan," tegasnya.

Kisah Raghad adalah pengingat betapa pentingnya pendidikan bagi masa depan anak-anak Gaza. Meskipun menghadapi tantangan yang luar biasa, ia berhasil meraih mimpinya. Namun, jutaan anak-anak lain di Gaza masih membutuhkan bantuan dan dukungan agar mereka juga dapat mewujudkan potensi mereka.

Upaya rekonstruksi fasilitas pendidikan dan penyediaan akses yang aman dan berkualitas terhadap pendidikan bagi semua anak di Gaza harus menjadi prioritas utama. Dengan dukungan dari komunitas internasional, diharapkan generasi muda Gaza dapat membangun kembali kehidupan mereka dan menciptakan masa depan yang lebih cerah. "Kita harus memberi mereka harapan, karena harapan adalah satu-satunya hal yang tersisa bagi mereka," pungkas seorang relawan yang bekerja di Gaza.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.