Kisah Inspiratif, Dosen Farmasi UGM Ukir Prestasi Mendunia!

Table of Contents
Kisah Inspiratif, Dosen Farmasi UGM Ukir Prestasi Mendunia!


Eka Noviana, seorang dosen muda dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), berhasil mencuri perhatian dunia sains. Namanya tercantum dalam daftar World's Top 2% Scientist versi Stanford University dan Elsevier, sebuah pengakuan atas kontribusi penelitiannya yang inovatif.

Inspirasi dari Laboratorium Farmasi UGM

Eka, yang memiliki keahlian di bidang analitik farmasi, mengaku tertarik pada riset karena ingin mencari solusi praktis untuk mendeteksi berbagai zat, termasuk bahan berbahaya, dalam berbagai sampel. Baginya, farmasi lebih dari sekadar obat-obatan. Ini tentang menjamin keamanan dan kualitas produk yang dikonsumsi masyarakat. "Saya selalu penasaran bagaimana kita bisa mengidentifikasi dan mengukur keberadaan suatu zat secara akurat dan efisien," ungkapnya saat ditemui di kampus UGM, Sabtu (11/10/2025).

Terobosan Alat Uji Berbasis Kertas (PAD)

Penelitian Eka yang membuatnya meraih pengakuan internasional adalah pengembangan _paper-based analytical device_ (PAD) atau alat uji analitik berbasis kertas. Inovasi ini memungkinkan deteksi berbagai senyawa atau kontaminan dalam sampel menggunakan kertas sebagai media uji. Cara kerjanya cukup sederhana: sampel diteteskan pada kertas yang sudah dimodifikasi dengan reagen tertentu, dan perubahan warna atau reaksi kimia yang terjadi akan menunjukkan keberadaan dan konsentrasi zat yang diuji.

Eka mengungkapkan bahwa ide awal PAD muncul dari keprihatinannya terhadap keterbatasan akses masyarakat terhadap fasilitas laboratorium, terutama di daerah terpencil. "Saya berpikir, bagaimana jika kita bisa menciptakan alat uji yang sederhana, murah, dan mudah digunakan, sehingga masyarakat awam pun bisa melakukan pengujian sendiri tanpa harus bergantung pada laboratorium?" tuturnya.

PAD: Ramah bagi Pengguna Tanpa Latar Belakang Laboratorium

Salah satu keunggulan utama PAD adalah kemudahan penggunaannya. Alat ini dirancang agar dapat digunakan oleh siapa saja, bahkan tanpa latar belakang pendidikan laboratorium. Instruksi yang jelas dan sederhana memungkinkan pengguna melakukan pengujian dengan cepat dan akurat.

"Kami memang sengaja merancang PAD agar ramah pengguna. Tidak perlu keahlian khusus atau peralatan canggih untuk mengoperasikannya," kata Eka. "Cukup teteskan sampel pada kertas, tunggu beberapa saat, dan amati hasilnya."

Fleksibel dan Praktis Digunakan di Lapangan

Selain mudah digunakan, PAD juga sangat fleksibel dan portabel. Ukurannya yang kecil dan ringan memungkinkan alat ini dibawa dan digunakan di mana saja, termasuk di lokasi-lokasi terpencil yang jauh dari fasilitas laboratorium. Hal ini sangat penting untuk pengujian cepat di tempat atau _point-of-care testing_, misalnya mendeteksi kontaminasi makanan di pasar tradisional atau menguji kualitas air di sumber-sumber air minum.

"PAD sangat ideal untuk digunakan di lapangan. Tidak memerlukan sumber listrik atau peralatan tambahan," jelas Eka. "Petani, pedagang, atau petugas kesehatan di lapangan dapat dengan mudah menggunakan alat ini untuk melakukan pengujian cepat dan mengambil tindakan yang diperlukan."

Minim Limbah, Ramah Lingkungan

Keunggulan lain dari PAD adalah minimnya limbah kimia yang dihasilkan. Karena menggunakan kertas sebagai matriks uji, jumlah reagen yang dibutuhkan sangat sedikit. Selain itu, kertas mudah terurai secara alami, sehingga mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

"Kami sangat peduli terhadap isu lingkungan. Oleh karena itu, kami merancang PAD dengan meminimalkan penggunaan bahan kimia berbahaya dan memaksimalkan penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan," kata Eka. "Dengan PAD, kita bisa melakukan pengujian tanpa harus menghasilkan limbah kimia yang berlebihan."

Menuju Paten dan Pemasaran Luas

Eka dan timnya saat ini sedang berupaya untuk mematenkan PAD dan memasarkannya secara luas kepada masyarakat. Mereka tengah melakukan optimasi dan validasi alat uji untuk memastikan akurasi dan keandalannya. Eka berharap, PAD dapat segera tersedia di pasaran dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. "Kami ingin PAD menjadi solusi praktis dan terjangkau untuk pengujian berbagai sampel, mulai dari makanan, minuman, air, hingga sampel klinis," ungkapnya.

Dukungan Pendanaan dari Pemerintah dan Swasta

Pengembangan PAD mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Selain itu, Eka juga menerima hibah dari ParagonCorp, perusahaan kosmetik ternama di Indonesia, untuk mendukung fasilitas pembelajaran dan penelitian di laboratorium Farmasi UGM.

"Dukungan dari Kemendikbudristek dan ParagonCorp sangat berarti bagi kami," ucap Eka. "Dengan dukungan ini, kami dapat mengembangkan PAD lebih lanjut dan mempercepat proses komersialisasinya."

Sebagai bentuk apresiasi atas prestasi Eka, ParagonCorp memberikan hibah senilai Rp 25 juta yang akan digunakan untuk menunjang riset dan fasilitas pembelajaran. Program ini merupakan bagian dari komitmen ParagonCorp untuk mendukung inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Eka berharap, kisah suksesnya dapat menginspirasi generasi muda Indonesia untuk terus berkarya dan berinovasi di bidang sains dan teknologi. Ia juga berencana untuk mengembangkan PAD untuk mendeteksi berbagai macam senyawa lainnya, termasuk parameter klinis seperti gula darah dan kolesterol, agar masyarakat dapat melakukan pemeriksaan kesehatan mandiri di rumah. Dengan demikian, PAD berpotensi menjadi alat diagnostik revolusioner yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.