Makanan Bergizi di Sekolah? Intip Trik dari Negara Maju, Kata Ahli!

Table of Contents
Makanan Bergizi di Sekolah? Intip Trik dari Negara Maju, Kata Ahli!


Makanan bergizi bagi anak sekolah, lebih dari sekadar pengisi perut, adalah investasi penting untuk masa depan bangsa. Negara maju sudah lama sadar akan hal ini. Lalu, bagaimana mereka memastikan anak-anak mendapat nutrisi optimal di sekolah? Ahli memberikan pandangannya.

Belajar dari Negara Maju: Kantin Sekolah Kunci Sukses Program Gizi?

Agus Sartono, Guru Besar Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), menyarankan agar program makan bergizi gratis (MBG) idealnya dikelola oleh kantin sekolah. Menurutnya, sistem ini jauh lebih unggul dibanding cara yang diterapkan di Indonesia saat ini. "Cara ini lebih baik dibanding dengan cara atau sistem yang diterapkan di Indonesia saat ini," tegas Agus, seperti dikutip dari laman UGM (5/10/2025).

Menilik Pengalaman Brasil dan Tiongkok

Agus Sartono menunjuk Brasil dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebagai contoh negara yang berhasil menerapkan program serupa melalui kantin sekolah. Indonesia bisa belajar banyak dari praktik baik ini untuk merancang sistem yang lebih efektif dan efisien.

Kantin Sekolah: Jaminan Makanan Segar dan Terkontrol

Keunggulan utama pengelolaan MBG lewat kantin sekolah adalah kepastian makanan yang lebih segar dan terkontrol kualitasnya. Agus menjelaskan, proses yang terkendali dalam lingkup kecil menjamin makanan tidak cepat basi. "Melalui kantin sekolah, makanan yang tersaji dalam MBG akan lebih segar dan tidak cepat basi. Seluruh prosesnya bisa terkontrol dengan baik lantaran berada dalam lingkup yang relatif kecil," ujarnya. Hal ini berbeda dengan sistem penyaluran panjang yang berpotensi menurunkan kualitas gizi makanan.

Sinergi Sekolah dan Komite Sekolah

Agus optimistis sekolah mampu mengelola program MBG dengan baik jika didukung komite sekolah. Kolaborasi ini akan menjamin transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat dalam pengawasan program. "Sekolah bersama komite sekolah saya kira mampu mengelola ini dengan baik," jelasnya. Selain itu, pengelolaan oleh kantin sekolah berpotensi memberdayakan UMKM lokal sebagai pemasok bahan baku makanan. Dengan demikian, program MBG tak hanya meningkatkan gizi anak, tetapi juga mendorong ekonomi lokal.

Alternatif: Dana Tunai Langsung untuk Siswa

Meski kantin sekolah dianggap ideal, Agus Sartono menawarkan alternatif jika opsi tersebut sulit diterapkan: memberikan dana tunai langsung kepada siswa.

Peran Aktif Orang Tua dan Pengawasan Ketat

Sistem dana tunai menuntut peran aktif orang tua dalam menyiapkan bekal bergizi. Agar efektif, Badan Gizi Nasional (BGN) perlu menyusun panduan teknis yang jelas dan melakukan pengawasan ketat. "Sistem ini akan melibatkan orang tua yang harus membelanjakan dan menyiapkan bekal kepada anak-anaknya. Jika ingin diterapkan, Badan Gizi Nasional (BGN) harus menyusun panduan teknis dan melakukan pengawasan," katanya. Bahkan, guru pun perlu bertindak tegas. Jika ada siswa tak membawa bekal, harus diberi peringatan, bahkan orang tua dipanggil jika terus berulang.

Efektif Menangkal Praktik Pemburu Rente

Pemberian dana tunai dinilai lebih efektif dalam menanggulangi praktik pemburu rente. Dana MBG bisa ditransfer langsung ke rekening siswa setiap bulan, seperti penyaluran bantuan sosial lainnya, sehingga risiko kebocoran dana bisa diminimalkan.

Mengapa Keracunan Makanan Sering Terjadi dalam Program MBG?

Keracunan makanan menjadi masalah serius dalam program MBG. Agus Sartono mengidentifikasi rantai penyaluran makanan yang panjang dan kompleks sebagai salah satu penyebabnya.

Rantai Penyaluran Makanan yang Panjang: Sumber Masalah?

Dalam sistem penyaluran yang melibatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), makanan harus melewati banyak tahapan sebelum sampai ke siswa. Rantai distribusi yang panjang ini meningkatkan risiko kontaminasi dan penurunan kualitas.

Keuntungan Pengusaha Besar: Dana Siswa Terpotong?

Agus menyoroti potensi keuntungan besar yang dinikmati pengusaha yang terlibat dalam penyaluran MBG. Ia mengindikasikan adanya pemotongan anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk setiap siswa. "Program Makan Bergizi Gratis pun bisa menjadi 'Makar Bergiri Gratis' bagi pengusaha besar karena mereka mendapat keuntungan yang besar secara 'gratis'," sindirnya. Ia mencontohkan, anggaran Rp 15 ribu per anak bisa tereduksi menjadi hanya Rp 7 ribu saja.

Saatnya Berbenah: Perpendek Rantai Distribusi

Agus Sartono meyakini masih ada waktu untuk memperbaiki dan menyempurnakan program MBG. Ia mendesak pemerintah untuk membenahi sistem penyaluran, memperpendek rantai distribusi, dan memberantas praktik koruptif. "Saya kira masih belum terlambat, dan ajakan saya mari kita perpendek rantai distribusi MBG agar lebih efektif dan hilangkan cara-cara kotor memburu rente. Jadikan MBG benar-benar sebagai Makan Bergizi Gratis bagi siswa," pungkasnya. Dengan memangkas rantai distribusi dan melibatkan UMKM lokal, diharapkan program MBG berjalan lebih efektif, transparan, dan akuntabel, sehingga tujuan meningkatkan gizi anak sekolah tercapai optimal. Evaluasi menyeluruh secara berkala, serta partisipasi aktif dari berbagai pihak, sangat penting untuk keberhasilan program ini.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.