Miris! Begini Kondisi Belajar Siswa SMPN 62 Bekasi Sekarang
Kondisi memprihatinkan dialami para siswa SMPN 62 Bekasi. Di tengah keterbatasan fasilitas, semangat belajar mereka tak padam. Namun, kondisi ruang kelas yang jauh dari kata layak menjadi tantangan tersendiri.
SMPN 62 Bekasi: Bangunan Rusak, Belajar Terbatas
SMPN 62 Bekasi yang terletak di Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi, kondisinya sungguh memprihatinkan. Atap dan dinding sekolah mengalami kerusakan yang cukup parah. Plafon kelas terlihat menganga, cat mengelupas di sana-sini, dan tembok retak bahkan berlubang. "Kami khawatir sekali, atapnya bisa tiba-tiba roboh," ujar Ibu Ani, seorang guru, menggambarkan kekhawatiran akan keselamatan siswa dan guru.
Minimnya anggaran membuat perawatan sekolah tak bisa dilakukan optimal. Data Dinas Pendidikan Kota Bekasi menunjukkan alokasi dana pemeliharaan untuk SMPN 62 Bekasi jauh dari ideal. Kondisi ini sudah berlangsung selama tiga tahun, namun perbaikan yang signifikan belum juga terealisasi.
Empat Kelas untuk 320 Siswa: Belajar Sistem Shifting
Kerusakan bangunan berdampak langsung pada jumlah ruang kelas yang bisa digunakan. Dari 320 siswa, hanya empat ruang kelas yang dinilai aman untuk kegiatan belajar. Alhasil, sekolah terpaksa menerapkan sistem belajar bergantian atau shifting.
"Terpaksa kami bagi siswa jadi dua sesi, pagi dan siang. Ini tentu berpengaruh pada kualitas pembelajaran," keluh Bapak Budi, Kepala Sekolah SMPN 62 Bekasi. Ia menambahkan, idealnya sekolah memiliki delapan ruang kelas yang layak. Keterbatasan ini membuat siswa kekurangan waktu untuk mendalami materi, dan guru kesulitan memberikan perhatian optimal.
Konsentrasi Terganggu, Nilai Turun
Kondisi bangunan dan keterbatasan ruang kelas tak pelak mengganggu proses belajar mengajar. Konsentrasi siswa buyar akibat kondisi kelas yang tidak nyaman, suara bising dari luar, kebocoran saat hujan, dan suhu ruangan yang panas. Belum lagi waktu belajar yang berkurang akibat sistem shifting.
Hasil ujian tengah semester pun menunjukkan penurunan nilai rata-rata siswa. "Anak-anak jadi kurang semangat belajar, merasa tidak nyaman dan tidak aman di sekolah," ungkap Ibu Siti, seorang wali murid. Kekhawatiran orang tua akan keselamatan anak-anak mereka di sekolah pun semakin meningkat.
Upaya Sekolah di Tengah Keterbatasan
Meski kondisi serba terbatas, para guru SMPN 62 Bekasi tak menyerah. Mereka berinisiatif menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan kreatif dengan memanfaatkan media pembelajaran sederhana dan mengajak siswa belajar di luar kelas jika memungkinkan.
Pihak sekolah juga aktif berkomunikasi dengan pemerintah daerah dan dinas pendidikan untuk mencari solusi. "Kami sudah ajukan proposal perbaikan bangunan, semoga segera disetujui," kata Bapak Budi. Kerjasama dengan alumni dan masyarakat setempat juga dilakukan untuk menggalang dana.
Pemerintah daerah menjanjikan alokasi dana perbaikan pada anggaran tahun depan, namun realisasinya masih belum pasti. Harapan besar kini berada di pundak pemerintah daerah agar siswa SMPN 62 Bekasi bisa belajar dengan nyaman dan aman. Kondisi ini menjadi ironi di tengah upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Perlu perhatian serius dan tindakan nyata dari semua pihak untuk memastikan pendidikan yang layak bagi semua anak bangsa.