Prabowo Soroti Krisis Air, Universitas Siap Tambah Jurusan?

Table of Contents
Prabowo Soroti Krisis Air, Universitas Siap Tambah Jurusan?


Prabowo Sentil Krisis Air, Mendiktisaintek Siapkan Jurusan Baru?

Jakarta - Isu krisis air di Indonesia menjadi perhatian serius Presiden terpilih Prabowo Subianto. Merespons hal ini, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) menyatakan kesiapannya untuk memperkuat penelitian dan kajian terkait tata kelola air di perguruan tinggi. Bahkan, penambahan program studi (prodi) terkait pun menjadi opsi yang dipertimbangkan.

Respons Cepat Mendiktisaintek Atas Arahan Prabowo

Mendiktisaintek Brian Yuliarto menjelaskan bahwa arahan Presiden Prabowo ini sejalan dengan program-program turunan Asta Cita, visi pembangunan yang diusung pemerintahan mendatang. Hal ini diungkapkan Brian usai acara Peluncuran Program Riset Prioritas Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Tahun Anggaran 2026 di Jakarta, Selasa (21/10/2025).

"Betul sekali, sebenarnya Bapak Presiden memang menitipkan beberapa program-program yang turunan dari Asta Cita," kata Brian.

Saat ini, sudah ada 18 program turunan Asta Cita yang menjadi fokus kementerian. Penekanan terbaru dari Presiden Prabowo mengenai pentingnya tata kelola air, khususnya air bersih, kini menjadi prioritas tambahan.

Meskipun belum ada pembahasan spesifik mengenai pembentukan prodi baru yang fokus pada isu air, Brian menegaskan bahwa masukan dari Presiden Prabowo akan diintegrasikan ke dalam program riset prioritas. "Kemarin Bapak Presiden menitip lagi penelitian-penelitian dan kajian-kajian mengenai tata kelola air, terutama air bersih dan sebagainya," jelasnya.

Brian menambahkan, "Justru dengan permintaan Bapak Presiden tersebut, kita akan jadikan juga topik penelitian, jadi topik di program prioritas ini." Langkah ini diharapkan dapat mendorong kajian yang lebih mendalam terhadap permasalahan air di Indonesia, dengan melibatkan dosen dan peneliti dari berbagai universitas.

Penelitian Tata Kelola Air Jadi Prioritas Utama

Penekanan pada penelitian tata kelola air sebagai prioritas menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadapi tantangan krisis air yang semakin nyata. Data menunjukkan bahwa akses terhadap air bersih dan sanitasi layak masih menjadi masalah di berbagai wilayah Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat, sekitar 20% penduduk Indonesia masih belum memiliki akses air minum yang aman. Pencemaran air juga menjadi perhatian utama, terutama di wilayah padat penduduk dan kawasan industri.

Dengan menjadikan tata kelola air sebagai fokus penelitian, diharapkan akan muncul inovasi dan solusi efektif untuk mengatasi permasalahan terkait air. Penelitian ini dapat mencakup pengelolaan sumber daya air, teknologi pengolahan air bersih, hingga mitigasi bencana banjir dan kekeringan.

Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi perumusan kebijakan yang lebih baik dalam pengelolaan sumber daya air. "Sehingga nanti apa-apa yang perlu dikaji, bisa dilakukan penelitian lebih dalam dari dosen-dosen kita yang ada di kampus-kampus perguruan tinggi," pungkas Brian. Dengan demikian, hasil penelitian dapat diimplementasikan secara konkret untuk meningkatkan kualitas dan ketersediaan air bagi masyarakat.

Kalangan akademisi menyambut baik inisiatif pemerintah ini. Prof. Anita Rachmawati, ahli hidrologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menyatakan bahwa isu air adalah permasalahan kompleks yang membutuhkan pendekatan multidisiplin. "Penelitian yang komprehensif dan terintegrasi sangat penting untuk menghasilkan solusi yang berkelanjutan," ujarnya.

Harapan Prabowo: Air Jadi Sumber Produktivitas

Sebelumnya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya pemanfaatan air secara optimal untuk mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. Ia ingin agar air tidak hanya menjadi sumber daya, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi kehidupan. "Bagaimana mencari air, bagaimana mengelola distribusi air, bagaimana mencegah banjir, air harus jadi sumber produktivitas, jangan menjadi sumber bencana," tegas Prabowo.

Prabowo juga menyoroti kurangnya minat terhadap studi tentang air di Indonesia. Ia mendorong Mendiktisaintek untuk mengevaluasi kurikulum di perguruan tinggi dan memastikan isu-isu terkait air mendapatkan perhatian yang memadai. "Kalau tidak salah bidang air ini masih sedikit yang dipelajari di fakultas-fakultas kita, ini tergolong mungkin hidrologi kalau tidak salah ya, hidrologi," pungkas Prabowo.

Kebutuhan akan tenaga ahli di bidang pengelolaan air diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan perubahan iklim. Penambahan prodi atau konsentrasi studi yang berfokus pada isu air di perguruan tinggi dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

"Ini adalah langkah strategis untuk masa depan," ujar Dr. Irfan Hakim, Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Air di Institut Teknologi Bandung (ITB). "Kita perlu lebih banyak ahli yang kompeten dalam mengelola sumber daya air secara berkelanjutan."

Dengan perhatian yang lebih besar terhadap isu air, diharapkan Indonesia dapat mengatasi berbagai permasalahan terkait air dan mewujudkan ketahanan air yang berkelanjutan. Pemerintah, akademisi, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut. Kajian dari program riset ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam penyusunan rencana strategis pengelolaan air nasional dalam lima tahun ke depan. Pemerintah juga berencana menjalin kerjasama dengan berbagai negara yang memiliki keunggulan dalam teknologi pengelolaan air untuk mempercepat transfer pengetahuan dan inovasi.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.