Prabowo Ungkap Jurus Jitu Atasi Internet Lemot di Sekolah-Sekolah Terpencil

Table of Contents
Prabowo Ungkap Jurus Jitu Atasi Internet Lemot di Sekolah-Sekolah Terpencil


Presiden Prabowo Subianto mengumumkan gebrakan baru untuk mengatasi masalah klasik: koneksi internet lemot di sekolah-sekolah pelosok. Tujuannya jelas, membuka pintu selebar-lebarnya bagi siswa untuk mengakses materi belajar berkualitas dan interaktif, demi meningkatkan mutu pendidikan di seluruh Indonesia.

Teknologi Koneksi Murah Meriah untuk Sekolah Terpencil

Kabar baiknya, Prabowo mengungkapkan bahwa ada teknologi konektivitas terjangkau yang bisa dipasang di sekolah mana pun yang kesulitan sinyal internet atau Wi-Fi. Teknologi ini akan memfasilitasi akses ke konten pelajaran, terutama mata pelajaran yang dianggap sulit. Caranya? Melalui interactive flat panel (IFP) atau layar pintar yang didesain khusus untuk pembelajaran interaktif. Inisiatif ini diharapkan mampu menjembatani jurang digital dan memberi kesempatan yang sama bagi seluruh anak bangsa.

Studio Terpusat: "Markas" Guru-Guru Terbaik

Lebih jauh, Prabowo menjelaskan bahwa guru-guru terbaik akan memiliki studio khusus untuk mengajar mata pelajaran yang sering dianggap "momok". Konten yang dihasilkan akan disiarkan ke seluruh Indonesia, membantu sekolah-sekolah yang kekurangan guru ahli di bidang-bidang tersebut.

"Di daerah pegunungan, pulau-pulau terpencil, bahkan di sekitar Jakarta, masih banyak sekolah yang tidak punya guru yang ahli dalam mata pelajaran tertentu," ujar Prabowo saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025), yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.

"Dengan adanya studio terpusat, guru-guru hebat bisa mengajar, dan kontennya bisa diterima oleh 330.000 sekolah yang kesulitan mengakses internet dan Wi-Fi. Sekarang sudah ada teknologi yang sangat terjangkau yang bisa dipasang di setiap sekolah," tambahnya. Harapannya, sistem ini bisa meningkatkan kualitas pengajaran secara signifikan di seluruh Indonesia.

Alternatif Lebih Hemat dari Starlink

Sebagai perbandingan, Prabowo menuturkan bahwa biaya pemasangan teknologi konektivitas ini jauh lebih ekonomis dibandingkan berlangganan layanan Starlink. "Starlink mungkin masih agak mahal untuk bayar tiap bulan, tapi sekarang sudah ada teknologi yang lebih terjangkau," ungkapnya. Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk mencari solusi yang efektif dan efisien dalam meningkatkan konektivitas di sekolah-sekolah terpencil.

Layar Pintar (IFP): Jendela Menuju Ilmu Pengetahuan

Prabowo menambahkan, pemanfaatan teknologi konektivitas ini diharapkan mendukung penggunaan layar pintar (IFP) yang menampilkan konten pengetahuan yang menarik bagi anak-anak. Layar pintar ini tak hanya menyediakan akses ke materi pelajaran, tetapi juga dirancang untuk meningkatkan minat belajar siswa melalui konten yang interaktif dan menarik secara visual.

Target: Tambah Layar IFP di Sekolah

Pemerintah punya rencana ambisius: mendistribusikan tambahan tiga layar IFP per sekolah pada tahun 2026. Tak berhenti di situ, dua layar IFP tambahan dijadwalkan menyusul pada tahun 2027.

"Tahun depan rencananya kita akan tambah tiga layar. Tahun ini kita mampu satu layar, tahun depan kita akan bagi tiga layar. Berarti di setiap sekolah akan ada empat ruangan yang punya layar ini. Mudah-mudahan tahun 2027 kita bisa tambah lagi dua layar, jadi enam kelas tiap sekolah bisa punya layar," jelasnya.

"Jadi semua anak-anak kita mendapat akses kepada pengetahuan yang terbaik dan terkini, dengan animasi dan dukungan yang optimal. Saya dapat laporan dari Mendikdasmen bahwa antusiasme anak-anak sekarang meningkat untuk sekolah," lanjut Prabowo. Data ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah dalam meningkatkan fasilitas pendidikan telah membuahkan hasil positif, dengan meningkatnya motivasi belajar siswa.

Distribusi Layar IFP oleh Kemendikdasmen

Menurut data dari Kemendikdasmen, target penyaluran IFP pada pertengahan Desember 2025 adalah lebih dari 288.000 satuan pendidikan negeri dan swasta. Hingga 7 Oktober 2025, distribusi telah mencapai lebih dari 70.000 sekolah, termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB), yang memungkinkan siswa tunanetra untuk memanfaatkan fitur talkback pada layar interaktif. "Penyaluran IFP ini merupakan langkah penting dalam upaya kami untuk memberikan akses pendidikan yang inklusif dan berkualitas bagi semua anak-anak Indonesia, tanpa terkecuali," ujar perwakilan dari Kemendikdasmen.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.