Sumenep Berguncang, Mengapa Gempa M 6,5 Terjadi? Penjelasan dari Ahli

Table of Contents
Sumenep Berguncang, Mengapa Gempa M 6,5 Terjadi? Penjelasan dari Ahli


Gempa M 6,5 Guncang Sumenep: Apa Penyebabnya?

Warga Sumenep, Jawa Timur, dikejutkan oleh gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,5 pada Selasa malam (30/9). Guncangan kuat tak hanya dirasakan di Sumenep, tapi juga hingga ke beberapa wilayah di Jawa Timur, Bali, dan Lombok. Apa sebenarnya yang menjadi penyebab gempa ini?

Aktivitas Sesar Aktif Bawah Laut Jadi Pemicu Utama

Menurut analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa Sumenep ini disebabkan oleh aktivitas sesar aktif di bawah laut. Sesar aktif merupakan patahan batuan di kerak bumi yang masih bergerak dan berpotensi menimbulkan gempa.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, kami menyimpulkan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif bawah laut," ujar seorang ahli BMKG, Rabu (1/10). BMKG terus melakukan pemetaan sesar aktif di wilayah Indonesia, terutama di bawah laut, untuk meminimalisir dampak gempa di masa mendatang.

Mekanisme Gempa: Sesar Naik (Thrust Fault)

BMKG menjelaskan lebih lanjut bahwa mekanisme pergerakan gempa Sumenep adalah sesar naik atau thrust fault. Kondisi ini terjadi ketika satu blok batuan bergerak naik relatif terhadap blok batuan lainnya, melepaskan energi besar dalam bentuk gelombang seismik.

Analisis mekanisme sumber gempa menunjukkan adanya pergerakan naik (thrust fault). Hal ini mengindikasikan tekanan tektonik yang kuat di wilayah tersebut memicu pergerakan sesar secara vertikal.

Seberapa Parah Dampak Gempa di Berbagai Wilayah?

Guncangan gempa M 6,5 ini dirasakan dengan intensitas yang berbeda-beda di berbagai wilayah. Berikut rinciannya berdasarkan skala Modified Mercalli Intensity (MMI):

* Pulau Sapudi: V-VI MMI. Getaran sangat kuat dirasakan semua orang dan menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan. * Sumenep, Pamekasan, Surabaya: III-IV MMI. Getaran terasa nyata di dalam rumah, seperti ada truk besar yang melintas. * Tuban, Denpasar, Gianyar: III MMI. Getaran terasa nyata di dalam rumah. * Tabanan, Buleleng, Kuta, Banyuwangi: II-III MMI. Getaran terasa nyata di dalam rumah. * Lombok Utara, Kota Mataram, Lombok Tengah, Malang, Blitar: II MMI. Getaran dirasakan sebagian orang, benda-benda ringan yang tergantung bergoyang.

"Skala intensitas ini memberikan gambaran jelas mengenai seberapa parah dampak gempa di masing-masing wilayah," kata seorang analis dari Pusat Gempa Regional.

Gempa Susulan dan Imbauan dari BMKG

Setelah gempa utama, BMKG mencatat empat gempa susulan dengan magnitudo terbesar 4,4. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan waspada, serta menghindari bangunan yang berpotensi roboh.

Kerusakan dan Upaya Penanggulangan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan sejumlah rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang akibat gempa. Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan terus melakukan pendataan dan memberikan bantuan kepada warga terdampak. "Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi," ujar Kepala BPBD Sumenep.

Pentingnya Mitigasi Bencana

BMKG menekankan pentingnya mitigasi bencana gempa bumi, terutama di wilayah rawan gempa. Mitigasi dapat dilakukan melalui pembangunan rumah tahan gempa, pelatihan kesiapsiagaan bencana, dan penyediaan sistem peringatan dini.

Waspada dan Ikuti Informasi Resmi

Gempa bumi merupakan fenomena alam yang sulit diprediksi secara tepat. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk selalu waspada dan siap menghadapi kemungkinan terjadinya gempa bumi. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG dan tidak mudah percaya pada berita yang tidak jelas sumbernya.

Kondisi Geologis Jawa Timur

Sebagai informasi tambahan, wilayah Jawa Timur, termasuk Sumenep, memang dikenal sebagai daerah rawan gempa karena terletak di zona subduksi, yaitu pertemuan antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Pergerakan lempeng inilah yang seringkali memicu terjadinya gempa bumi di wilayah tersebut.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.