Susu Kemasan MBG Cuma 30 Persen? Kata Ahli Justru Sama Kayak Susu Segar!
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah berjalan kini menyoroti salah satu menunya: susu kemasan. Kandungan susu yang hanya 30% memicu diskusi tentang kualitas dan perbandingan dengan susu segar. Apa kata ahli gizi dan pakar susu?
Kritik Ahli Gizi: Susu Bukan Prioritas Utama
Ahli gizi, dr. Tan Shot Yen, pada akhir September 2025 lalu, menyuarakan pendapatnya mengenai penggunaan susu dalam program MBG. Menurutnya, susu bukanlah sumber protein hewani yang paling esensial. "Kita sudah melewati era empat sehat lima sempurna. Susu itu tidak penting banget kalau kebutuhan protein sudah terpenuhi dari telur, ikan, atau daging," ujarnya dalam sebuah rapat yang disiarkan di YouTube TVR Parlemen.
Intoleransi Laktosa Jadi Sorotan
Dokter Tan juga menyoroti masalah umum di kalangan etnik Melayu, yaitu intoleransi laktosa. Kondisi ini membuat tubuh kesulitan mencerna gula alami dalam susu. "Faktanya, sekitar 80% etnik Melayu intoleran laktosa, termasuk saya. Jadi, bisa dibayangkan dampaknya," jelas lulusan FKUI tahun 1991 ini. Konsumsi susu pada kelompok ini berpotensi menimbulkan masalah pencernaan.
Lebih lanjut, dr. Tan juga menyoroti bagaimana masyarakat dapat menilai sendiri kualitas susu yang diberikan. "Publik kita dah pintar. Mereka bisa membedakan, mana yang susu dan mana yang hanya minuman bergula," tegasnya. Ia bahkan mencontohkan susu yang dibagi dalam program MBG, "Ini bukan susu. Ini adalah minuman bergula."
Penjelasan Pakar: Susu MBG Sesuai Aturan BPOM
Berbeda pendapat, Prof. Dr. Epi Taufik dari Badan Gizi Nasional (BGN), menjelaskan bahwa kandungan gizi susu dalam program MBG telah diatur secara ketat sesuai dengan peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). "Spesifikasi khusus disusun oleh BGN dengan mengacu pada standar BPOM," jelasnya, mengacu pada bahan baku susu segar minimum 20% yang ditambah padatan susu dengan kandungan gizi setara susu segar.
Prof. Epi merinci kandungan penting dalam susu MBG, antara lain kalsium tidak kurang dari 15% daily value, lemak minimal 3%, protein minimal 2,7%, serta karbohidrat dan mineral minimal 7,8%.
Memahami Kandungan Susu Segar
Prof. Epi menekankan bahwa masyarakat perlu memahami komposisi susu segar yang didominasi air. Ia menjelaskan, susu sapi segar mengandung sekitar 88% air dan hanya 12% bahan kering seperti lemak, protein, laktosa, dan mineral. "Susu sapi segar, terutama dari sapi Frisian Holstein (FH), susu kambing, bahkan ASI, kandungan utamanya adalah air," ujar Guru Besar Ilmu dan Teknologi Susu IPB ini. Ia juga memastikan bahwa kandungan gizi dalam susu MBG tetap setara dengan susu segar, meskipun menggunakan campuran. "Yang penting, kandungan gizi susu MBG (lemak, protein, laktosa/karbohidrat, dan mineral) setara dengan susu segar," katanya.
Keterbatasan Produksi Susu Segar Nasional
Prof. Epi mengakui bahwa produksi susu segar dalam negeri masih terbatas, hanya mencukupi sekitar 20% dari kebutuhan nasional. "Sebelum ada program MBG pun, kita sudah harus impor 80% kebutuhan susu," ungkapnya. Dengan adanya tambahan kebutuhan dari program MBG, ketersediaan susu segar dalam negeri semakin berkurang.
Prioritaskan Bahan Baku Lokal
Tim BGN, lanjut Prof. Epi, telah mempertimbangkan ketersediaan susu segar dalam negeri saat merancang program MBG. Tujuannya adalah untuk menghindari peningkatan impor yang sudah tinggi, sejalan dengan arahan presiden untuk memprioritaskan penggunaan bahan baku lokal. Kandungan susu segar dalam MBG diawali dengan minimum 20% tetapi dengan kandungan gizi setara susu segar. "Kandungan susu segar dalam susu MBG ini akan ditingkatkan secara bertahap mengikuti ketersediaan produksi susu segar dalam negeri yang dihasilkan oleh para peternak sapi perah dalam negeri," tuturnya.