Trauma Santri Usai Pondok Ambruk, Ini Saran Psikolog Biar Cepat Pulih

Table of Contents
Trauma Santri Usai Pondok Ambruk, Ini Saran Psikolog Biar Cepat Pulih


Luka mendalam masih terasa di Sidoarjo, Jawa Timur, pasca-ambruknya pondok pesantren beberapa waktu lalu. Tragedi ini, yang merenggut nyawa dan menyebabkan luka fisik, berpotensi meninggalkan trauma berkepanjangan yang bisa memengaruhi kehidupan para santri, bahkan hingga motivasi belajar mereka. Lalu, bagaimana cara terbaik untuk membantu mereka pulih?

Dampak Trauma yang Menghantui Santri

Lebih dari sekadar puing bangunan, ambruknya pesantren itu juga meninggalkan "reruntuhan" emosional di benak para santri. Trauma pasca-kejadian bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari rasa cemas berlebihan, mimpi buruk, sulit berkonsentrasi, hingga hilangnya minat pada hal-hal yang dulu mereka sukai. Hal ini ditegaskan oleh dr Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, seorang psikiater dan dosen Fakultas Kedokteran (FK) IPB University, Jumat (10/10/2025).

Bagaimana Trauma Mempengaruhi Otak Kita?

Menurut dr. Riati, trauma punya pengaruh fundamental pada cara kerja otak. Saat seseorang mengalami kejadian traumatis, sistem limbik, bagian otak yang mengatur emosi dan rasa takut, menjadi sangat aktif.

"Akibatnya, bagian otak depan yang berfungsi untuk berpikir, fokus, dan mengambil keputusan bekerja kurang optimal," jelas dr. Riati.

Kondisi ini membuat korban trauma seringkali kesulitan berkonsentrasi, mudah cemas, dan kehilangan semangat belajar. "Yang utama adalah membantu mereka berdamai dulu dengan rasa takutnya. Rasa takut itu perlu diterima dan dilepaskan secara bertahap, bukan ditekan. Setelah emosi mulai stabil, semangat belajar akan pulih dengan sendirinya karena pusat berpikir di otak sudah bisa berfungsi dengan normal lagi," tambahnya.

Mengapa Dampaknya Berbeda pada Setiap Anak?

Meski mengalami kejadian serupa, dampak trauma bisa sangat bervariasi antar santri. Pengalaman individu saat peristiwa berlangsung, dan bagaimana mereka memaknainya, menjadi faktor penentu. Seperti yang diberitakan , beberapa santri bahkan tertimpa reruntuhan selama berhari-hari tanpa makanan dan minuman sebelum akhirnya dievakuasi. Bahkan, ada santri yang harus diamputasi tangannya karena terimpit beton.

"Ada yang hanya melihat dari jauh, ada yang merasakan langsung getaran atau reruntuhan, bahkan mungkin ada yang terluka," kata dr Riati.

"Jadi, tidak bisa disimpulkan secara umum bahwa semua santri akan mengalami hal yang sama," tegasnya.

Langkah Tepat Menangani Trauma

Pemulihan trauma membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan individual, mencakup dukungan psikologis, emosional, dan sosial. Langkah pertama yang penting adalah melakukan penilaian psikologis mendalam untuk memahami dampak trauma secara spesifik pada masing-masing santri. Penanganan trauma secara hati-hati dan berkelanjutan amat diperlukan.

Penilaian Psikologis yang Lebih Personal

Penilaian psikologis akan membantu mengidentifikasi gejala trauma yang dialami masing-masing santri, seperti kecemasan, depresi, gangguan tidur, atau gejala pasca-trauma lainnya. Hasil penilaian ini akan menjadi dasar untuk merancang rencana intervensi yang tepat, disesuaikan dengan kebutuhan individual santri.

Mengobati Rasa Takut, Baru Semangat Belajar

Prioritas utama adalah mengatasi rasa takut dan kecemasan yang dialami para santri sebelum berfokus pada pemulihan semangat belajar. dr. Riati menekankan bahwa semangat belajar akan pulih setelah emosi stabil.

Dukungan Emosional & Lingkungan yang Aman

Dukungan emosional dari keluarga, teman, guru, dan komunitas sangat krusial dalam proses pemulihan trauma. Anak-anak perlu merasa dicintai, didukung, dan dipahami. Menciptakan lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang dapat membantu santri membangun kembali rasa percaya diri dan harapan. dr. Riati juga mengingatkan bahwa anak yang mendapatkan dukungan emosional dan lingkungan yang aman biasanya lebih cepat pulih daripada yang tidak mendapatkannya.

Pondok pesantren yang ambruk tak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma mendalam di benak para santri. Pemulihan trauma memerlukan pendekatan komprehensif dan individual, melibatkan dukungan psikologis, emosional, dan sosial. Dengan penanganan yang tepat dan dukungan berkelanjutan, para santri dapat mengatasi trauma mereka, membangun kembali kehidupan, dan meraih masa depan yang lebih baik. Upaya pemulihan ini membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.