Trump Kembali Sasar Universitas Elit AS, Kali Ini Soal Dana Hibah
Donald Trump kembali menyasar sejumlah universitas elite di Amerika Serikat. Kali ini, sasarannya adalah dana hibah federal, dengan manuver yang berpotensi memicu polemik tentang kebebasan akademik. Sembilan universitas ternama kini berada di bawah tekanan untuk menyetujui pakta ideologis kontroversial sebagai syarat untuk mendapatkan kucuran dana pemerintah.
Sembilan Universitas dalam Bidikan Trump
Gedung Putih, pada Rabu malam (1/10/2025), mengirimkan surat kepada sembilan institusi pendidikan tinggi terkemuka di AS. Surat ini menyasar kampus-kampus yang dinilai berpotensi menjadi "aktor yang baik" di mata pemerintahan Trump.
Berikut daftar universitas yang menerima surat tersebut:
* Vanderbilt University * Dartmouth College * University of Pennsylvania * University of Southern California * Massachusetts Institute of Technology (MIT) * University of Texas di Austin * University of Arizona * Brown University * University of Virginia
Apa Isi Pakta Ideologis yang Ditawarkan?
Inti dari surat tersebut adalah permintaan agar kesembilan universitas menandatangani pakta ideologis yang terdiri dari sepuluh poin. The Wall Street Journal melaporkan, pakta ini berisi serangkaian tuntutan yang berpotensi mengubah iklim kampus secara fundamental.
Universitas diminta untuk menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi mahasiswa dan dosen konservatif, membatasi jumlah mahasiswa internasional, serta melarang penggunaan ras atau jenis kelamin sebagai faktor penentu dalam proses rekrutmen dan penerimaan.
Surat itu juga menyoroti perlunya penghapusan departemen atau program yang dianggap "sengaja menghukum, meremehkan, atau bahkan memicu kekerasan terhadap ide-ide konservatif." Lebih lanjut, universitas diharapkan melarang karyawan untuk mengekspresikan pandangan politik atas nama institusi. Sebagai imbalan, pemerintahan Trump menjanjikan "berbagai manfaat positif," termasuk "hibah federal yang substansial dan bermakna."
Reaksi Awal dari Universitas yang Ditargetkan
Bagaimana tanggapan universitas-universitas yang menjadi sasaran surat tersebut? Beberapa di antaranya memberikan pernyataan singkat.
USC: "Sedang Meninjau Surat"
"Kami sedang meninjau surat dari Pemerintah," demikian bunyi pernyataan resmi dari University of Southern California, seperti dikutip dari Newsweek.
MIT Mengonfirmasi Penerimaan Surat
Massachusetts Institute of Technology (MIT) juga mengonfirmasi telah menerima dokumen dari pemerintah. Informasi lebih lanjut mengenai tanggapan MIT masih belum tersedia.
Universitas Texas "Merasa Terhormat"
Ketua Dewan Bupati Sistem Universitas Texas, Kevin Eltife, justru menyatakan "merasa terhormat" karena Universitas Texas di Austin terpilih untuk menerima pakta tersebut. "Kami sangat antusias untuk segera berinteraksi dengan para pejabat universitas dan meninjau pakta tersebut," ujarnya.
Universitas Virginia Belum Ambil Keputusan
Seorang juru bicara Universitas Virginia mengungkapkan bahwa Presiden Sementara Paul Mahoney telah menerima surat mengenai Pakta untuk Keunggulan Akademik dalam Pendidikan Tinggi. "Universitas belum membuat keputusan apa pun terkait pakta tersebut," imbuhnya.
Kecaman Mengalir Deras
Manuver pemerintahan Trump ini langsung menuai kritik keras, terutama dari organisasi-organisasi yang bergerak di bidang pendidikan tinggi.
American Council on Education Angkat Bicara
Ted Mitchell, Presiden American Council on Education (ACE), yang mewakili lebih dari 1.500 rektor perguruan tinggi dan universitas, mengecam isi surat tersebut. "Implikasinya terhadap kebebasan berbicara sangat mengerikan," tegas Mitchell.
Penjelasan dari Gedung Putih
May Mailman, penasihat senior untuk proyek-proyek khusus di Gedung Putih, berusaha meredakan kekhawatiran. Ia menyatakan bahwa pemerintah tidak berencana membatasi pendanaan federal hanya untuk universitas yang menandatangani perjanjian tersebut. "Namun, sekolah-sekolah yang patuh akan diprioritaskan untuk mendapatkan hibah jika memungkinkan," jelasnya.
Bukan Pertama Kalinya
Tindakan terbaru ini bukanlah kali pertama pemerintahan Trump menyasar universitas elit. Sebelumnya, pendanaan untuk Universitas Harvard dibekukan atas tuduhan antisemitisme dan kekhawatiran terkait praktik keberagaman.
Pemerintahan Trump menyoroti aksi protes pro-Palestina di Harvard dan berupaya menghentikan lebih dari USD 2 miliar dana hibah penelitian untuk universitas tersebut. Bahkan, pemerintah mempertimbangkan larangan bagi mahasiswa internasional untuk kuliah di Harvard, mengancam status akreditasi universitas, dan membuka peluang pemotongan dana lebih lanjut dengan menuduh Harvard melanggar hukum hak sipil federal.
Kesepakatan Harvard dan Sekolah Vokasi
Setelah negosiasi yang alot, Presiden Trump dan Universitas Harvard akhirnya mencapai titik temu. "Berdasarkan kesepakatan itu, pihak Harvard akan membayar sebesar USD 500 juta atau setara Rp 8,3 triliun dan akan mengoperasikan sekolah-sekolah kejuruan," ujar Trump. Harvard disebut akan berkontribusi dalam pengembangan keahlian di bidang teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI).
Sekolah Ivy League Lainnya Menyusul?
Beberapa sekolah Ivy League lainnya juga telah mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Trump dalam beberapa bulan terakhir. Universitas Columbia setuju untuk membayar lebih dari USD 220 juta kepada pemerintah, sementara Universitas Brown berkomitmen membayar USD 50 juta untuk mendukung pengembangan tenaga kerja lokal. Hal ini menimbulkan spekulasi tentang tekanan yang dihadapi universitas-universitas tersebut untuk memenuhi tuntutan pemerintah demi menjaga akses ke pendanaan federal.
Langkah kontroversial pemerintahan Trump ini diperkirakan akan terus memicu perdebatan sengit tentang peran pemerintah dalam dunia pendidikan tinggi, kebebasan akademik, dan pentingnya keberagaman di kampus-kampus Amerika Serikat. Dampak jangka panjang dari pakta ideologis ini masih belum jelas, namun satu hal yang pasti: masa depan pendidikan tinggi di AS tengah menghadapi tantangan yang signifikan.