Waspada! Siapa Saja yang Paling Berisiko Terpapar Radioaktif di Cikande?

Table of Contents
Waspada! Siapa Saja yang Paling Berisiko Terpapar Radioaktif di Cikande?


Kasus paparan radioaktif Cesium-137 (Cs-137) yang ditemukan di Cikande, Serang, Banten, baru-baru ini sontak membuat publik khawatir. Mengingat dampaknya yang bisa berbahaya, bahkan dalam jangka panjang, penting untuk memahami siapa saja yang paling berisiko dan bagaimana cara menghadapinya. Insiden ini menjadi sorotan dan pengingat akan pentingnya pengawasan serta penanganan yang tepat terhadap sumber radioaktif.

Bahaya "Tak Kasat Mata" Radiasi

Radiasi memang tak terlihat, tak berbau, dan tak terasa. Namun, jangan sepelekan bahayanya. Menurut dr. Laila Rose Foresta, SpRad (K) NKL, seorang dosen Fakultas Kedokteran IPB University, tubuh akan memberikan "sinyal" jika terpapar radiasi dalam jumlah sangat tinggi.

"Sinyal" yang dimaksud bisa berupa luka bakar pada kulit yang terkena, mual, muntah, hingga lemas beberapa jam setelah terpapar. Kondisi ini dikenal sebagai acute radiation syndrome (ARS). Namun, dr. Laila mengingatkan, paparan dalam jumlah kecil yang terjadi berulang kali mungkin tidak langsung memunculkan gejala.

Efek radiasi, lanjutnya, bisa berbeda pada setiap orang. Zat radioaktif bisa "mengendap" secara diam-diam di organ tubuh dan merusak sel-sel secara perlahan. "Dalam jangka pendek, paparan radiasi tinggi bisa menyebabkan gangguan saluran cerna hingga menurunkan sel darah putih," jelasnya, dikutip dari laman IPB University pada Minggu (5/10/2025). "Namun dalam jangka panjang, risikonya lebih serius: kanker, katarak, hingga menyebabkan kerusakan sumsum tulang belakang yang menimbulkan anemia, leukopenia, hingga leukemia."

Siapa yang Paling Rentan?

Lantas, siapa saja yang paling berisiko mengalami dampak buruk radiasi? Dr. Laila menekankan bahwa ibu hamil dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan. Mengapa? Karena sel-sel dalam tubuh anak-anak masih dalam proses pertumbuhan yang pesat.

Paparan radiasi berulang pada anak-anak dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, keterlambatan perkembangan otak, hingga masalah hormonal. Selain itu, radiasi juga bisa memicu masalah pada sistem reproduksi, menurunkan kesuburan akibat kerusakan produksi sperma atau ovum.

Pada ibu hamil, terutama pada trimester pertama, paparan radiasi meningkatkan risiko kelahiran prematur, cacat bawaan, hingga retardasi mental pada bayi. "Kalau radiasi mengenai sel germinal, mutasi DNA bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Jadi risikonya bukan hanya untuk pasien, tapi juga keturunannya," jelasnya.

Langkah Cepat Jika Terpapar Radiasi Tinggi

Jika Anda mencurigai atau mengetahui telah terpapar radiasi tinggi, tindakan cepat sangat diperlukan. Menurut dr. Laila, langkah pertama yang harus dilakukan adalah dekontaminasi eksternal. Caranya, lepaskan pakaian yang mungkin terkontaminasi dan cuci tubuh secara menyeluruh dengan sabun dan air mengalir.

Jika sudah muncul gejala, perawatan suportif seperti pemberian cairan, obat antimual, hingga antibiotik profilaktik (jika sel darah putih menurun) mungkin diperlukan.

"Kalau dekontaminasi internal, kami memberikan obat-obatan yang dapat mengikat zat radioaktif dalam tubuh agar bisa dikeluarkan lewat ekskresi. Contohnya, tablet KI untuk mengikat I-131 supaya tidak menumpuk di tiroid, atau prussian blue dan Zn-DTPA untuk jenis zat tertentu," ungkapnya.

Jadi, segeralah mandi dan berganti pakaian untuk membersihkan sisa radiasi, konsumsi obat yang dianjurkan dokter, dan segera cari pertolongan medis.

"Yang paling penting adalah pencegahan. Karena itu, kewaspadaan terhadap radiasi dan penanganan sejak awal sangat penting," tegas dr. Laila.

Hendra Jaya
Hendra Jaya Saya Hendra Jaya, penulis berita teknologi yang senang berbagi tren digital, inovasi, dan perkembangan dunia startup.